Dulu Rasulullah saw dan para sahabatnya berfikir keras mencari cara bagaimana mengajak kaum Nasrani agar masuk Islam, sekarang sebagian tokoh berfikir keras mencari pembenaran ucapan Natal demi toleransi yang mereka puja-puja.
Bahkan beliau berkirim surat ke berbagai negara sekitar jazirah untuk menyeru para Raja agar memeluk agama ini. Ada surat beliau yang disambut gembira, ada pula yang di robek hingga beliau murka.
Beliau kepala negara, juga kepala pemerintahan di Madinah. Madinah juga majemuk, baik dari segi suku maupun agama, namun tak satupun kita temukan Nabi saw mencari muka di hadapan kaum Nasrani maupun Yahudi dengan memberi ucapan Natal atau hari raya umat lain. Juga tak satupun kita temukan para sahabat menjaga gereja saat perayaan Natal tiba.
Bahkan setiap beliau bertemu dengan para tokoh Yahudi dan Nasrani, beliau mengajaknya masuk Islam.
Ada tetangga beliau yang menghadapi sekaratul maut, beliau kunjungi dan beliau ajak masuk Islam.
Ada juga satu episode dimana serombongan pendeta Najran mendebat beliau tentang konsep trinitas, maka Allah memerintahkan beliau untuk melakukan mubahalah agar jelas siapa diantara kedua pihak yang benar?
“Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita ber-mubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS: Ali Imran: 61)
Itulah misi hidup Sang Nabi yang mestinya diikuti oleh umat ini; menyelamatkan manusia dari kekufuran, bukan sebaliknya; mengucapkan selamat atas perayaan kekufuran.
Sebenarnya siapa yang anda ikuti; Nabi Muhammad saw atau Jaenudin Ngaciro?
“Katakanlah (wahai Muhammad); jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), pasti Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”
(QS: Ali Imran :31)
Suhari Abu Fatih
Pelayan Ma’had Al fatih Klaten
