Siapa yang tak kenal Abu Dzar Al Ghiffari? Lelaki zuhud yang dikatakan Rasulullah saw “hidup sendirian, mati seorang diri dan kelak dibangkitkan pun sendirian”.
Ia menyambut Islam sejak permulaan, hingga termasuk As Saabiqunal Awwalun. Teguh memegang wasiat Rasulullah saw hingga akhir hayatnya. Tak ada yang ia langgar sama sekali.
Namun dalam soal kepemimpinan, Rasulullah saw mewanti-wanti agar ia menjauhinya;
“Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu amanah. Sesungguhnya jabatan akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerimanya, kecuali ia mengambilnya dengan cara yang benar dan menunaikan amanah jabatan tersebut juga dengan benar.”
Maka sejak itu ia telah menyatakan thalaq tiga dengan jabatan dan kekuasaan, bahkan menjauhi siapapun yang terlibat dalam kekuasaan.
Sungguh kepemimpinan itu tak hanya butuh keshalihan, namun juga kecakapan. Bahkan yang cakap lebih didahulukan daripada yang shalih.
Itulah makna Firman Allah swt;
“….. sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya” (QS: Al Qashash: 26).
Ternyata kapasitas itu lebih didahulukan daripada integritas, meski keduanya penting. Noted!
Dan itulah rahasia dibalik jawaban Allah swt tatkala Bani Israel meragukan kelayakan Thalut untuk menjadi pemimpin mereka. Simaklah dengan seksama;
(Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” (QS: Al Baqarah: 247)
Keshalihan pribadi sulitlah diukur karena banyak sisi rahasia dibalik sosok seorang pemimpin, namun soal kecakapan memimpin mudah sekali diukurnya. Banyak indikator yang mudah diamati dan dipelajari.
Kita lebih membutuhkan kecakapan seorang pemimpin daripada keshalihan pribadinya karena keshalihan berdampak personal sedangkan kecakapan memiliki dampak yang bersifat komunal. Demikian juga sebaliknya. Ini tak hanya berlaku dalam kepemimpinan nasional, namun juga organisasional.
Apa guna tartilnya tilawah seorang pemimpin saat ia membaca Al Qur’an, namun tak ada kehendak dan keberanian menerapkan ajaran Al Qur’an?
Apa guna puasa senin kamis yang biasa ia lakukan, jika ia membiarkan rakyatnya puasa tiap hari karena kelaparan?
Apa gunanya ia fasih saat jadi imam shalat, namun ‘kentut’ saat menjadi imam negara?
Wallahu a’lam
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih
