Bismillah, walhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wasahbihi wa man walah.
Saudaraku seiman yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita sejenak bercermin dan menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam? Di zaman yang serba cepat ini, arus informasi tidak hanya membawa ilmu, tetapi terkadang juga membawa arus perpecahan. Kita hidup di masa di mana perbedaan pemahaman yang kecil saja bisa memicu kebencian yang begitu mendalam.
Dulu, kita mungkin duduk di majelis yang sama. Dulu, kita berpeluh keringat bersama dalam jalan dakwah, saling menguatkan saat iman sedang turun. Namun hari ini, hanya karena beda pandangan, beda guru, atau beda ijtihad dalam hal-hal yang sifatnya cabang (furu’iyah), kita memalingkan wajah saat berpapasan. Seolah-olah, teman seperjuangan kita itu bukan lagi saudara seiman.
Bahkan, yang paling mengerikan adalah ketika kebencian itu berkerak menjadi penyakit hati bernama Syamatah.
Syamatah adalah perasaan diam-diam merasa senang, puas, atau bersyukur ketika melihat orang yang kita benci—yang dulunya sahabat kita—ditimpa musibah, kesulitan, atau kejatuhan. Na’udzubillahi min dzalik.
Saudaraku, Rasulullah ﷺ pernah berdoa memohon perlindungan dari sifat ini:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari buruknya takdir, penderitaan yang berat, keburukan musibah, dan kegembiraan musuh atas musibahku (syamatah).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika musuh saja dilarang kita sikapi dengan syamatah, apatah lagi ia yang bersyahadat dengan syahadat yang sama, shalat menghadap kiblat yang sama, dan sujud kepada Rabb yang sama?
Bagaimana Menjadi Pribadi yang Pemaaf dan Berhati Lapang?
Untuk membersihkan hati dari dendam dan merajut kembali ukhuwah yang terkoyak ego, mari kita renungkan langkah-langkah berikut:
Ingatlah Titik Temu, Bukan Titik Seteru:
Kalimat Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah yang mengikat kita jauh lebih besar dan lebih agung daripada perbedaan pendapat yang memisahkan kita. Jangan biarkan ego keilmuan membuat kita merasa paling suci dan berhak mengeluarkan seseorang dari persaudaraan Islam.
Kenanglah Kebaikan Masa Lalunya:
Saat amarah atau benci mulai muncul kepada mantan teman dakwah, paksakan akal kita untuk mengingat satu atau dua kebaikannya di masa lalu. Bukankah ia pernah menolong kita? Bukankah ia pernah mengingatkan kita pada kebaikan? Jangan biarkan satu kesalahan atau perbedaan menghapus ribuan kebaikannya.
Doakan Kebaikan Tanpa Sepengetahuannya:
Obat paling mujarab untuk membunuh rasa benci dan kesombongan adalah dengan mendoakan orang yang kita benci. Saat lisan kita berat, paksakan berdoa: “Ya Allah, jika pemahamannya keliru, berilah ia petunjuk. Jika pemahamanku yang keliru, berilah aku hidayah. Sayangilah ia sebagaimana Engkau menyayangi hamba-Mu yang beriman.” Malaikat akan mengaminkan doa tersebut dan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
Sadari Bahwa Kita Semua Sedang Berproses:
Tidak ada manusia yang sempurna pemahamannya kecuali Rasulullah ﷺ. Kita semua adalah pembelajar yang fakir akan ilmu Allah. Berikanlah udzur (alasan/maklum) kepada saudara kita. Jika ia keliru, doakan dan nasihati dengan adab, bukan dimusuhi.
Saudaraku, sungguh hati ini terlalu sempit jika harus disesaki dengan kebencian kepada sesama mukmin. Surga Allah itu seluas langit dan bumi, mungkinkah kita ingin memasukinya sendirian dan berharap saudara kita masuk neraka hanya karena berbeda pendapat dengan kita?
Mari kita lapangkan dada. Maafkanlah mereka. Tersenyumlah jika esok berpapasan. Tanyakan kabarnya. Jika ia mendapat musibah, jadilah orang pertama yang mengulurkan tangan, bukan yang tersenyum sinis di belakang.
Jadilah pemilik Qalbun Salim (hati yang selamat), karena pada hari kiamat kelak, tidak ada yang bermanfaat dari harta dan anak-anak kita, kecuali mereka yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

