Ada rasa tak tertahankan meski air mata tertahan oleh sedikit siasat pengalihan pikiran. Iri kepada seseorang yang hanyut khusu’ dalam i’tiraf. Pengakuan tulus akan kepongahan yang pernah menghinggapi berbalas cinta kasih Allah dalam arus sungai Musi
Ya Rabb, kebesaran-Mu mampu menenggelamkan segala yang sering dibesar-besarkan. Terimakasih ya Rabb, kasih-Mu mengantarkan kepada kesadaran bahwa yang senyatanya dan sebenar-benarnya hanya Engkau yang maha besar.
Bening air matanya mengalir lembut dan kontras dengan kekar tubuhnya. Pada kaca mobilnya tertulis terang HIGA. Sebagian kawan memplesetkan Hitam Gagah yang entah bagaimana penafsirannya.
Kata-kata yang menurut orang lain itu jenis bullying, sindiran atau apalah semua telah hanyut karena baginya semua itu kecil selain-Nya. Nyaman dalam dekap ridha-Nya sudah lebih dari cukup untuk menikmati bahagia.
Baginya, pergaulan sebagiannya merupakan senda gurau yang dapat dikelola dan bila tepat akan ditemukan untaian hikmah yang mandraguna.
Hidupnya menjadi inspirasi, terlebih di zaman di mana tidak lagi semua yang berjubah karena kecintaannya pada Rasulullah. Bahkan ada sebagian sengaja mengenakan jubah demi menutupi wataknya yang bedebah.
Abu Ghaib demikian pernah diperkenalkan lewat udara pada saluran radio yang pernah muncer di Klaten. Kini radionya yang ghaib tapi kangmas Abu Ghaib masih eksis dan jangan disangka keberadaannya berpindah ke alam ghaib sana.
Tentu bukan sebab tiadanya, Abu Ghaib adalah manusia nyata yang barangkali tidak ingin dinyatakan adanya dan apanya. Ada keunikan yang tidak mudah dibaca dan apalagi dilukiskan senyata-nyatanya.
Air matanya sungguh mengundang cinta. Allah telah mengundangnya berlabuh ke padang I’tiraf untuk menunaikan ibadah hajji. Dan sabda Nabi: Al Hajju ‘Arafah. Ya puncak hajji di padang ‘Arafah, tempat kaum hujjaj berkesempatan untuk i’tiraf.
Kaum Hajji adalah tamu-tamu Allah. Jadilah tamu-tamu yang tidak malu mengaku dan mengadu! agar tidak sampai menabung pilu.
Harapan besar tidak menunda i’tiraf ke padang Mahsyar, tempat sebagian manusia menemui perundungan yang menuding muka-muka bermuram durja (baca QS Al Mulk: 11)
Anshor Hasan

