Tugas utama para da’i itu bukan merebut kekuasaan, namun mengenalkan manusia pada Allah swt, Tuhan seru sekalian alam.
(قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِیلِیۤ أَدۡعُوۤا۟ إِلَى ٱللَّهِۚ عَلَىٰ بَصِیرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِیۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَاۤ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِینَ)
Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” [QS. Yusuf: 108]
Itulah rahasia, kenapa yang dibangun oleh Rasulullah Saw bukan istana, melainkan masjid. Sehingga ketika beliau memimpin Madinah, beliau lebih tampak sebagai nabi (da’i) bukan sebagai raja.
Dan kelak, ketika Islam telah berjaya di masa Umar bin Khattab, beliau pun memimpin umat manusia dari masjid dan mengajak mereka untuk menuhankan Allah semata.
Pun demikian, saat cucu beliau di daulat menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz pun meninggalkan istana megah dan lebih memilih mesjid sebagai pusat pemerintahannya dan mengajak umat manusia kembali kepada tuhan.
Demikian pula mengapa Musa as tidak kembali ke Mesir untuk menjadi raja pasca tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah, padahal beliau adalah anak angkatnya dan Mesir ketika itu membutuhkan pemimpin baru.
Demikian halnya dengan Sulaiman as, beliau pernah berkirim surat kepada Bilqis untuk mengajaknya untuk masuk Islam dan mengenalkannya kepada Allah swt.
(إِنَّهُۥ مِن سُلَیۡمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ. أَلَّا تَعۡلُوا۟ عَلَیَّ وَأۡتُونِی مُسۡلِمِینَ)
Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” [QS. An-Naml; 30-31]
Itu pula rahasia, kenapa tak kita temukan para wali di tanah Jawa ini menggerakkan pengikutnya untuk merebut kekuasaan dari para raja.
Namun para wali tersebut lebih memilih untuk mendampingi raja-raja tanah Jawa dan membimbing mereka dengan penuh kearifan hingga kekuasaan mereka digunakan untuk menjaga dan menjayakan agama.
Mereka lebih memilih untuk menaklukkan hati para raja dengan cahaya ilmu dan iman lalu menitipkan amanah dakwah ini kepada mereka secara pelan-pelan.
Maka pertanyaan saya kepada para da’i dan santri yang sedang berebut kekuasaan; benarkah kekuasaan yang sedang kalian perebutkan itu benar-benar akan kalian gunakan untuk mengenalkan manusia kepada tuhan?
Semoga!
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih Klaten

