Salah satu ayat yang harus sering-sering kita renungkan adalah ayat 191 surat Ali Imran: “Ya Tuhan kami, tidak pernah Engkau ciptakan ini secara sia-sia, maha suci Engkau maka jauhkan kami dari adzab neraka”
Apapun ciptaan Allah swt, pastilah ada tujuan dan hikmah ilahiyah yang agung di balik penciptaan tersebut. Karena kesia-siaan dan main-main itu bukan sifat Ar Rahman. Perhatikan ayat yang lain tentang ini: “Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” [QS: Al Mukminun: 115]
Sayangnya saat kita membicarakan ciptaan Allah (makhluk) yang sering terlintas itu hanya ciptaan yang bersifat materi, bahkan lebih spesifik lagi yang berupa benda padat (jamadat). Ini salah satu contoh sempitnya cara berpikir kita tentang luasnya ciptaan Allah.
Maka yang kita ingat hanya bumi beserta makhluk hidupnya, gunung-gunung beserta pepohonan nya, lautan beserta ikan-ikannya.
Dan lebih disayangkan lagi, dari sekian makhluk tersebut yang lebih sering kita ingat hanya benda-benda yang jelas-jelas mengandung unsur manfaat bagi kehidupan. Sehingga kita akan makin kesulitan untuk menemukan relevansi ayat ini pada benda-benda yang mengandung unsur madharat (bahaya) lebih dominan.
Perhatikanlah ayat ini dan tariklah ia sebagai landasan dari kaidah diatas;
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” [QS: Al Baqarah; 219]
Khamr dan judi saja masih dikatakan memiliki unsur manfaat bagi manusia.
SIFAT MAKHLUK
Semua sifat yang melekat pada makhluk adalah makhluk. Dan sesuai kaidah diatas; “tidak ada ciptaan (makhluk) Allah yang sia-sia”.
Saat kita melihat suatu sifat yang buruk pada diri seseorang, kita cenderung hanya teringat unsur keburukannya. Lupa bahwa dalam keburukan itu pasti ada kebaikan.
Ambillah contoh; sifat malas umpamanya. Apa ada yang berfikir bahwa pada sifat itu ada nilai manfaatnya? Jarang sekali kita renungkan.
Padahal munculnya rumah-rumah makan, ramainya wisata kuliner, bermunculannya usaha-usaha laundry, hadirnya layanan jasa dan lain sebagainya adalah akibat adanya rasa malas pada sebagian orang. Meskipun sebagian yang lain karena alasan kesibukan sehingga tidak punya cukup waktu untuk masak atau mencuci.
Maka lihatlah, andai Allah swt tidak menciptakan rasa malas pada sebagian orang maka jutaan lapangan kerja tersebut tidak akan ada. “Ya Tuhan kami, tidak ada satupun ciptaan Mu yang sia-sia”.
Contoh lainnya adalah penyakit korupsi. Rata-rata orang jika teringat kata korupsi selalu yang diingat itu kejelekan dan madharat nya saja. Penilaian seperti itu benar dan sah-sah saja. Karena memang demikian.
Tapi pernahkah anda merenungkan lahirnya profesi polisi, detektif, pengacara, bahkan hadirnya KPK dengan sekian ribu karyawannya dan sekian banyak anggota dewan yang membahas undang-undang nya karena sebab adanya penyakit yang kita sebut korupsi itu. Termasuk para wartawan yang mendapatkan berita karena sebab kasus korupsi.
Ternyata adanya koruptor itu memiliki unsur manfaat bagi sebagian manusia. Mereka mendapat lapangan kerja. Itulah cara Allah mengelola kehidupan. Kita rela maupun tidak. Bukan berarti korupsi itu baik. Bukan begitu konklusinya.
Misal lainnya: adanya kebencian dan permusuhan. Rata-rata orang hanya melihat sisi negatifnya. Padahal dalam semua ciptaan itu selalu ada unsur negatif dan unsur positif.
Andai tidak ada konflik dan perseteruan antara Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti Bani Abbasiyah, mungkin Islam tidak akan sampai di Spanyol. Abdurrahman Ad Dakhil melarikan diri ke Spanyol dan mendirikan negara disana hingga Islam tersebar luas di Eropa karena adanya konflik tersebut. Maka konflik itu memiliki manfaat.
Andai tidak ada konflik antar kiyai dan antar pengurus yayasan, mungkin tidak akan berdiri begitu banyak pesantren dan yayasan dengan berbagai corak madzhab dan aliran. Maka konflik itu ‘baik’ bahkan menyehatkan asal tidak berlebihan.
Saat kita menyoal Perang juga demikian. Yang terlintas selalu sisi negatifnya. Dan itu wajar. Tapi Allah swt mengajar kan kepada kita agar kita tidak menafikan unsur kebaikan dalam peperangan itu.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [QS: Al Baqarah: 216]
Lihatlah ketika terjadi Perang Suriah, Iraq, Afghanistan dan di Timur Tengah secara umum. Kondisi sangat buruk sekali. Tapi di balik itu semua ada skenario Allah agar sebagian kaum muslimin yang negerinya sedang dilanda perang itu mengungsi. Di negeri pengungsian itulah kelak cahaya Islam akan memancar.
Demikian dan seterusnya. Maka jangan tergesa-gesa su’udzon kepada Allah SWT. Dia maha mengetahui, sedangkan kita bodoh sekali.
Allahu a’lam
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

