KEGADUHAN

Ruang sempit penuh dengan orang-orang yang membawa kepentingan sangat beragam, masing-masing merasa paling berhak, merasa paling penting. Menjegal kanan menjegal kiri dan bahkan melibas semua yang dianggap merintangi kepentingannya. Kegaduhan tak terelakkan. Demikianlah gemerlap dunia menjadikan sekian banyak manusia terpedaya.

Ketika pelakunya adalah para durjana maka memang begitulah pekerjaan mereka. Semua hal selalu halal dan bagi mereka begal adalah prestasi fenominal. Namun, betapa aneh ketika para aktifis dakwah terseret arus yang menggerus. Musibah di atas musibah.

Fasih beretorika mencari pembenaran atas ketakberdayaan menghadapi kemilau dunia. Ayat-ayat suci mengemuka tapi bukan menjadi suluh hati karena ia tak lebih sebatas tameng belaka. Faktanya penuh intrik demi sekeping recehan di ruang pengap nan gulita bernama dunia.

Semula dalam beberapa dasawarsa hadirlah para pengusung nilai kemurnian perjuangan, sebagai antitesis dari kejumudan yang sedemikian lama menggurita. Kehadirannya awal mula diyakini menjadi oase di tengah padang kehidupan yang kerontang. Memunculkan harapan di tengah dominasi keputus asaan.

Apa hendak dikata. Akhirnya campur aduk pula dalam kubangan yang sama. Mana pejuang mana pecundang menjadi sulit diurai ukuran pembedanya. Penjilat dan penghianat tanpa penat memperagakan tipu muslihat asal kepentingan bisa diembat.

“Membeli kebenaran” menjadi ijtihad pembaharuan di kancah juang terkhusus dalam politik. Dari pada kuasa jatuh kepada para penghianat, maka keberadaan kaum yang sholih berkewajiban menyelamatkan jabatan dari tangan-tangan jahat. Dibelilah ia dengan gelontoran dana pemikat -kalau tak boleh disebut syubhat.

Kebenarankah? Bila awal mula rajin mengaji, medan terjal nan jauh tetaplah ditempuh berharap kefaqihan yang utuh. Tapi begitu cepat berubah seiring perubahan wasilah dakwah. Orkestra politik menjadikan persoalan bertambah pelik. Yang semula lugu menjadi belagu. Kacamata kebenaran berganti kacamata kepentingan.

Dulu, termutaba’ah ibadah yaumiyah. Melantunkan ayat-ayat suci menambah kekuatan dan energi. Shiyam sunnah pengendali ambisi. Ma’tsurat mencegah dari munkarat. Sunnah rawatib menjadikan diri lebih tertib. Sedekah mensupport jiwa lebih bergairah. Dan ragam amal yaumi yang menginspirasi. Bagaimana intensitasnya kini?

Ayat-ayat suci berubah fungsi; semula ditadaburi demi meniti jalan kemenangan hakiki, tapi kini tak sedikit yang berani melangkahi. Begitu mudah dalam kafilah yang sama saling mencurigai, saling memata-matai untuk saling “menghabisi”. Fitnah menjadi senjata pembunuh (karakter) seseorang tanpa mengenal belas kasihan. Kebenaran tergadaikan, masih pula diyakini membeli kebenaran.

Membeli kebenaran di medan juang?

Semua merasa sholih? Setiap kelompok meyakini yang paling lurus? Inilah problemnya. Bergelayut pertanyaan-pertanyaan mengiringi: Siapakah yang memiliki otoritas penilaian kriteria kesholihan? Dari mana dana pembelian? Adakah jaminan dana yang telah digunakan tulus untuk perjuangan? Bagaimana godaan mencari timbal balik kerugian pengeluaran? Bagaimana rumusan bahwa membeli kebenaran bukanlah money politik sebagaimana tertuang di dalam undang-undang? Jual belinya sembunyi-sembunyi ataukah terang-terangan? Dan sekian pertanyaan yang entah adakah kesudahan.

Sesungguhnya Fathul Mu’in dan kutubut turats lainnya tetaplah mengandung khazanah keilmuan yang penuh hikmah, jika ia dikaji orang-orang faqih sehingga istinbat yang dihasilkan selalu pas dengan fiqih waqi’nya. Bukan semua orang bebas berkesimpulan tanpa landasan.

Saat semua gegabah mengobral fatwa, maka kegaduhan semakin tak terhindarkan. Sedang tidak semua memahami Maqashidusy Syari’ah. Tidak semua mengerti Ijma’, Qiyas, Maslahah Mursalah, Istihsan, Istihsab, Syar’u man qablana. Tapi begitu banyak orang dengan mudah menghukumi ini dan itu tanpa ilmu.

Dorongan keinginan untuk menjawab semua pertanyaan juga menjadi sumber persoalan. Ulama’ dahulu tak selalu menjawab semua pertanyaan. Sufyan bin ‘Uyainah salah satunya, ketika ditanya tentang maksud hadits “Biarkan burung dalam sarangnya” (dalam sunan Abu Daud 283). Tetiba beliau bergetar sembari beristighfar dan kemudian menyatakan: “Aku tidak tahu apa maksud hadits ini”. Keterus terangan beliau tidak menjatuhkannya dari kemuliaan. Beliau tetap seorang ‘alim yang dari madrasahnya lahir para ulama’.

Yang lurus mestinya terus tak berhenti tulus. Yang sholih harusnya tidak perlu mulah malih. Para penyuluh sejatinya tidak menambah gaduh. Nikmatnya dakwah ketika mampu menggugah. Merubah jahiliyah menjadi cerah terarah.

Anshor Hasan

Tinggalkan Komentar