Aku melihat banyak rumah tanpa pagar, termasuk rumahku sendiri. Hanya teralis besi yang mengitari sekeliling. Yang kerapkali membuat enggan tetangga yang hendak berkunjung dan silaturrahim. Selain tinggi, seringkali teralis itu terkunci. Rapat sekali.
Ah, kenapa justru orang-orang baik yang malah terpenjara di balik teralis, bukan para rampok dan maling durjana. Kemana saja polisi?
Aku menyaksikan rumah-rumah tanpa pagar, termasuk rumahku sendiri. Hanya beton-beton yang kokoh mengitari. Tak ada fungsi melindungi.
Berbagai kejahatan tiap saat bisa menghancurkan pasangan hidup dan anak-anak kita. Bukan lagi tiap hari, namun tiap menit dan detik. Melalui gadget dan handphone yang kita punya.
Teralis dan beton hanya menghalangi maling kelas teri. Maling yang mencuri aset berupa materi. Uang, perhiasan dan kendaraan mungkin aman. Namun aset termahal kita berupa keluarga dan anak-anak, kita biarkan dibawa pergi. Oleh siapa? Oleh maling-maling tak kasat mata. Melalui gadget-gadget dan handphone yang kita punya. Mereka mencuri, bahkan merampas segalanya.
Keharmonisan keluarga lenyap. Kedekatan antara ayah dengan anak seolah sirna. Perhatian dan kasih sayang antar keluarga sangat berkurang.
Suami mengacuhkan istri, sedangkan istri tak lagi peduli dengan suami. Masing-masing sibuk dengan orang lain yang bahkan tak pernah sekalipun berjumpa. Aneh tapi nyata!
Hubungan dengan tetangga kering kerontang. Tak lagi kita temukan perbincangan di beranda rumah sambil minum kopi tanpa gula. Atau sekedar siskamling untuk saling tegur sapa. Semua sibuk dengan dunianya; dunia maya. Nyata tapi ghaib. Ghaib tapi nyata.
Antar teman tak lagi bertatap muka. Antar kawan tak ada senyuman. Dengan handai taulan saling berjauhan. Itukah yang disebut dengan kemajuan zaman?
Berbagai sajian film perusak iman hingga musik dan lagu roman picisan disuguhkan setiap saat. Tinggal klik, semua tampil dalam genggaman. Menjadikan anak-anak kita makin menjauh dari agama. Makin tak peduli dengan sesama.
Permainan dan game online terus merampas masa-masa kecilnya. Yang mestinya dipenuhi ceria. Namun ia habiskan berjam-jam, bahkan seharian hanya dengan gadget. ‘Berdua saja’. Lalu dimana kita?
Tidakkah kita saksikan anak-anak kita makin beringas. Kesibukan mereka bukan lagi tentang mengerjakan tugas. Atau menyiapkan setoran hafalan. Prank dan saling bully menjadi trend dan kesenangan baru. Saling hina jadi menu keseharian. Ah, rusak. Bukan, bukan mereka yang rusak, namun kita yang merusak.
Rumah-rumah kita berubah menjadi kuburan. Tak terdengar suara tilawah Al-Qur’an selepas Maghrib atau bakda subuh. Bahkan sebagian kita menganggap itu adalah ciri keluarga konservatif. Kuno, kata mereka.
Akhlaq dan adab tak lagi menjadi topik pembicaraan di kalangan orang tua. Bahkan tidak pula di kalangan para praktisi pendidikan.
Bapak dan ibu guru sekarang lebih sibuk mengolah angka-angka. Seolah keberhasilan jangka panjang (baca; akhirat) ditentukan oleh angka-angka. Begitu pula keberhasilan jangka pendek (baca; dunia) ditentukan oleh nilai yang tertera di selembar dokumen.
Sedangkan sebagian guru lainnya berkutat dengan kertas-kertas untuk menjadi syarat sertifikasi. Atau tersibukkan dengan seminar dan pendidikan kilat di sana sini. Kilat belajarnya, kilat pula hilang ilmunya.
Seolah sertifikasi itulah penentu hidup mati mereka. Sementara yang lain berlomba untuk menjadi abdi negara. Bukankah itu mental para pencari kerja, bukan mental pejuang pendidikan?
Ini hanya soal kegelisahan menatap masa depan anak-anak kita. Masa depan bangsa. Masa depan umat yang tengah sekarat.
Mari pagari rumah kita dengan kesadaran! Sadar bahwa kita adalah orang tua. Sadar bahwa setiap orang tua adalah guru bagi anak-anaknya. Sadar bahwa kelak di akhirat, kita lah yang ditanya. Bukan dia. Bukan pula dia. Segeralah terjaga, sebelum semua sirna!
Hadanalllah wa iyyakum
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

