Pak Habibie, begitu kami mengenal anda sejak kecil. Sejak kami berada di bangku sekolah dasar, nama anda telah diceritakan guru-guru kami. Diceritakan layaknya kisah dan legenda. Manusia Indonesia yang memiliki IQ diatas rata-rata. Melebihi Einstein, kata mereka. Meski tubuh anda kecil, namun ternyata otak anda berukuran raksasa.
Setiap kali ada pesawat terbang melintasi angkasa kampung kami, kami segera keluar berhamburan sambil berteriak: “Pesawat pak Habibie lewat”. Karena menurut cerita guru-guru kami, Anda mampu menciptakan pesawat terbang yang sangat canggih hingga teori Anda banyak dikembangkan di perusahaan penerbangan di negara-negara maju.
Anda pernah memiliki rencana dan mimpi besar; menjadikan bangsa ini sebagai bangsa produsen pesawat terbang. Namun sayang, rencana dan mimpi besar itu belum berjodoh dengan takdir bangsa ini.
Entah kenapa, kemampuan dan potensi anda justru disia-siakan oleh bangsa sendiri. Padahal di negeri orang, Anda begitu dikagumi. Sebagaimana tak sedikit putra-putri terbaik bangsa ini justru dibanggakan di negeri orang, sedangkan di negerinya sendiri seolah bukan siapa-siapa.
Ibarat bunga, mereka bermekaran di taman-taman nan jauh di sana, namun menjadi layu, meranggas lalu mati ketika berada di taman bernama Indonesia. Nestapa.
Ternyata setelah kami dewasa, kami tidak hanya mengenal Anda sebagai seorang akademisi yang cerdas dan pembuat pesawat terbang namun juga seorang politisi yang berjiwa negarawan.
Di era ’97-’98 pesawat besar bernama Indonesia ini mengalami turbulensi. Badai krisis multidimensi terjadi di semua lini. Arus reformasi yang berubah menjadi anarkhi tak bisa dihindari. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di seantero negeri.
Saat itu Anda didaulat (baca: dipaksa) menjadi presiden di masa transisi ini. Masa krisis yang penuh gejolak dan keadaan yang serba tak pasti. Namun ditanganmu keadaan negeri ini menjadi terkendali. Tentu atas izin Allah SWT, namun ikhtiar dan kerja keras anda tidak mungkin kami nafikan.
Rupiah yang menyentuh angka dua puluh ribu perak turun drastis menjadi sekitar enam ribu saja. Kerusuhan padam dan penjarahan berhenti. Dan yang paling dahsyat, pemilu paling jurdil terselenggara tanpa sececer darah pun tertumpah sia-sia.
Anda tidak hanya seorang perancang dan pembuat pesawat terbang, namun juga seorang ‘pilot’ yang begitu lihai mengendarai pesawat besar bernama Indonesia di masa turbulensi. Anda bukan hanya seorang tekhnokrat dan akademisi namun juga leader dan pemimpin sejati.
Selamat jalan pak Habibie!
Kami bangga pernah mengenal dan sezaman dengan-mu.
Semoga Allah SWT membalas semua jerih payah dan pengorbanan-mu serta menempatkan-mu di jannah-Nya. Amin
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

