Memilih tidak berada di salah satu pihak saat dua kelompok sedang bertikai bukan tanpa resiko. Justru resikonya besar yaitu dimusuhi oleh kedua belah pihak.
Namun menjadi jembatan yang terus berusaha menghubungkan keduanya sungguh jauh lebih beresiko. Engkau harus siap-siap di injak-injak oleh kedua belah pihak. Engkau harus memiliki pondasi kepribadian yang kokoh dan tulang punggung yang kekar serta dada yang lebar agar tak mudah ambruk saat dilalui siapa saja yang hendak menyeberang.
Setelah keadaan berjalan normal, perananmu-pun akan dilupakan. Berapa banyak orang berlalu lalang melewatimu namun tak satupun memperhatikan dirimu. Berapa banyak kendaraan menyeberang diatas punggungmu namun tak terdengar ucapan terimakasih atas pengorbananmu.
Itulah level keikhlasan paling tinggi yang diberikan Allah SWT kepadamu. “Ramai ing gawe, sepi ing pamrih”. Ajaran nenek moyang dan leluhur orang Jawa ini sangat relevan untuk melukiskan kerja-kerja senyapmu. Begitu keras engkau bekerja, namun saat memetik buahnya engkau justru menghilang. Itulah sifat auliya’ (wali-wali) Allah swt yang hanya berharap balasan dari-Nya semata.
Tahun 91 H ditetapkan oleh para ulama sebagai ‘Amul jama’ah (tahun persatuan umat Islam). Karena dua kubu yang bertikai dan berseteru bahkan berperang sekian lama bersepakat untuk berdamai dan melakukan reunifikasi antar kedua kekuatan politik; loyalis Ali bin Abi Thalib dan loyalis Muawiyah bin Abi Sufyan.
Siapakah tokoh dibalik rekonsiliasi itu? Beliau adalah putra Sayidina Ali sendiri; Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, semoga Allah meridhoi keduanya. Ia tanazul (merelakan) kekhalifahan di ambil alih oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.
Secara politis ia memang kalah. Namun di mata umat, dialah pemenangnya. Karena jasanya lah kedua belah pihak yang notabene saudara seiman itu akhirnya berdamai dan saling memaafkan. Dalam politik, kalah dan mengalah itu sangat tipis sekali bedanya.
Orang seperti Al Hasan inilah jembatan. Sang penghubung bahkan pemersatu umat. Yang terlupakan saat kondisi kembali normal. Saat masing-masing telah memetik buah kesejahteraan. Tapi catatan perannya tertulis rapi di langit dan di buku catatan amalnya. Tak sebiji dzarah pun akan terkurangi pahalanya.
Wallahu a’lam
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih
