MEREKA YANG TERTIPU

Penyakit Ruhani itu dua macam, tak ada ketiganya. Pertama; penyakit syahwat. Sedangkan yang kedua; penyakit Syubuhat.

Sebab penyakit yang pertama-lah para pelaku maksiat terjerumus dalam jurang dosa, baik besar maupun kecil. Dari pacaran tanpa sentuhan hingga berzina betulan, bahkan hubungan dengan sesama jenis. Dari mencuri mangga tetangga hingga korupsi triliunan jumlahnya. Dari mabuk tuak kampungan hingga kecanduan narkoba kelas dunia.

Umumnya, para pelaku maksiat menyadari apa yang mereka adalah dosa dan kesalahan hingga tak sedikit yang menyesal dan bertaubat. Meskipun ada pula yang dihukum oleh Allah SWT dengan dicabutnya rasa penyesalan akan dosa-dosa hingga mereka sampai pada level menikmati dosa tersebut tanpa perasaan bersalah.

Sedangkan penyakit kedua menyebabkan banyak orang terjatuh dalam penyimpangan pemikiran, bid’ah hingga kekufuran tanpa sadar.

Iya, tanpa sadar. Dan tidak merasa salah. Kenapa? Karena yang diserang oleh penyakit ini adalah nalar dan pikiran, lalu hati dan sanubari.

Mereka menyimpang namun merasa sedang berjuang. Mereka merusak namun merasa sedang memperbaiki. Mereka membuat masalah, namun merasa sedang memberi solusi.

Lihatlah para pelaku bid’ah dari kalangan Syi’ah! Di hari Asyuro nan mulia seperti ini, mereka kotori kesuciannya dengan darah mereka yang najis. Mereka lukai badan mereka dengan belati dan cemeti hingga darah membasahi bumi. Anehnya mereka menganggap bahwa hal itu adalah ibadah nan suci dan tinggi. Innalilahi wa innailaihi rojiun!

Mereka pun tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah bentuk hukuman langsung dari Allah swt atas dosa dan kejahatan mereka. Kejahatan menghina istri Nabi Saw, Sayyidah Aisyah dan para Sahabat nya semisal Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan lain sebagainya.

Allah swt tidak perlu mengotori tangan kaum muslimin dengan menumpahkan darah mereka. Namun diri mereka sendirilah yang melukai tubuh mereka. Itulah cara kerja Allah swt.

Renungkan-lah pula kisah seorang doktor liberal yang melegalkan perzinahan lewat disertasinya beberapa hari yang lalu! Tanpa dilegalkan saja, zina sudah marak dimana-mana apalagi dilegalkan.

Simaklah wawancaranya dengan wartawan Republika yang sempat dirilis beberapa hari yang lalu. Ia tak sedikitpun merasa bersalah. Bahkan ia menganggap apa yang dilakukan adalah solusi bagi kasus-kasus hubungan seksual diluar nikah (non marital). Hingga ia buat sendiri definisi zina semau dirinya demi membela penyimpangan pemikirannya. Ia siap merevisi disertasinya namun tanpa merubah substansi, katanya.

Bagaimana mungkin seorang doktor yang kesehariannya mengajar mata kuliah hukum keluarga Islam memiliki kesimpulan sesat seperti itu? Dan anehnya diluluskan oleh kampusnya? Dan yang lebih aneh lagi, ada saja orang yang membelanya? Anehnya masih banyak yang tak mampu membedakan antara perbedaan pemikiran dan penyimpangan pemikiran. La Haula Wala quwwata Illa Billah!

Zina itu dosa besar. Sedangkan melegalkan zina bukan saja dosa besar, tapi kekufuran. Para pelaku zina, bisa saja diampuni oleh Allah swt meski mereka belum bertaubat hingga mati namun orang-orang yang menghalalkan zina tidak mungkin diampuni oleh Allah swt jika ia tidak bertaubat dengan taubatan nasuha.

Wallahu waliyyut taufiq wal hidayah

Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

Tinggalkan Komentar