Definisi baik atau buruk itu kalau anda serahkan kepada manusia maka akan rusak tatanan kehidupan ini.
Oleh karena itu, Allah menegaskan : “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu”. (QS: Al Baqarah: 147).
Di ayat yang lain, Allah swt juga berfirman: ” Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah sebenarnya petunjuk” (QS: Al Baqarah: 120).
Bahkan Allah swt mewanti-wanti Baginda Nabi Saw agar tidak mengikuti sudut pandang kebanyakan manusia karena hal tersebut bisa menyesatkan:
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan”. (QS: Al An’am: 116)
Rata-rata manusia itu, kata Allah dalam ayat ini hanya mengikuti persangkaan dan tukang membuat kebohongan. Mereka menyangka ini dan itu baik, menurut nalar dan standar nilai yang mereka buat sendiri tanpa dasar kaidah yang jelas.
Renungkanlah contoh-contoh berikut ini:
Jika ada seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita pelacur. Lalu laki-laki itu tidak mau membayar wanita tersebut. Maka secara otomatis, wanita itu akan mengatakan kalau laki-laki itu bukan laki-laki yang baik. Karena dalam persepsi nya laki-laki yang baik itu yang mau membayar dirinya sesuai tarif yang telah disepakati.
Anehnya, persepsi seperti ini banyak yang meng-amini. Padahal dalam pandangan agama, berzina itu dosa besar dan buruk, baik membayar maupun gratisan.
Bagi seorang bos copet, anak buah yang baik itu jika rajin setoran dan tidak membawa lari uang hasil copetannya. Padahal, mencopet itu buruk dan selamanya buruk, baik ia setorkan kepada bosnya maupun tidak.
Bagi negara, warga yang baik itu yang mau bayar pajak. Meskipun ia adalah pemilik pabrik minuman keras atau club-club malam dan tempat-tempat mesum, ia tetap dianggap sebagai warga negara yang baik, asal mau bayar pajak.
Pernah ada seorang artis wanita yang mengagumi Jepang hingga pada kesimpulan bahwa Jepang lebih baik daripada Indonesia hanya karena negeri Sakura itu lebih makmur, rapi dan teratur. Bahkan ia berujar; “Ternyata tanpa agama-pun kehidupan bisa baik”.
Lain lagi soal sebagian orang yang tidak bosan membandingkan Indonesia dengan Singapura. Katanya Singapura jauh lebih baik daripada Indonesia hanya karena di Singapura tidak ada korupsi. Padahal Singapura itu surganya para koruptor yang melarikan diri dari Indonesia.
Okelah, dalam banyak hal Indonesia sangat tertinggal dari negara lain. Tapi dalam pandangan agama dan ulama, Indonesia jauh lebih baik karena di negeri ini asma Allah swt. diagungkan, setiap jengkal tanahnya dipergunakan untuk sujud, dan setiap hari kumandang adzan bersahut-sahutan dari menara-menara masjidnya.
Korupsi itu buruk, namun kekufuran jauh lebih buruk. Itulah standar nilai yang ditetapkan oleh Allah swt. Maka Dia melarang kita untuk mengagumi dan takjub dengan kehidupan orang-orang kafir.
“Jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di negeri-negeri mereka. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka Jahanam. (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat tinggal”. (QS: Ali Imran: 196-197)
Inilah pentingnya alim ulama yang menjelaskan persoalan seperti ini. Andai tanpa mereka, maka gelap gulita-lah dunia ini.
Dari sini kita faham bahwa standar nilai itu mestinya didasarkan pada agama, bukan diserahkan kepada akal manusia.
Wallahu a’lam…
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

