Jika kita mengenang Pilkada Jayakarta 2017
Maka deretan nama tokoh, ulama dan haba’ib akan muncul di depan mata kita
Akan terlintas wajah Anis-Sandi dengan OKE-OCE nya
Shohibul Iman dengan gayanya yang sederhana
Kader PKS dengan soliditas dan _tadhiyah_nya
Prabowo dengan Gerindranya yang ketegasan itu seolah telah menjelma menjadi baju kebesarannya
Mardani Ali Sera yang rela melepaskan kesempatannya
Para relawan yang telah memeras keringat dan rela terjaga sepanjang malam
Tak luput juga Habib Riziq Siehab, Bachtiar Natsir dan alumni 212 yang tersebar di seantero Nusantara yang tak kenal lelah berdoa untuk kebaikan NKRI yang tercinta
Aktifis social media yang tak kalah berjasanya
Para muhsinin/muhsinat yang telah menginfaqkan hartanya
Termasuk mungkin kita semua yang hari-hari ini tengah berbahagia dengan kemenangan umat ini
Serta pihak dan tokoh-tokoh lainnya yang tentu tidak bisa kita sebut satu persatu namanya
Namun jika kita sebut satu nama; *Allah Azza wa Jalla*.
Maka semua nama diatas termasuk diri kita akan sirna begitu saja
Ya, kemenangan ini bukan karena kehebatan dan kerja keras kita
Kemenangan ini bukan karena militansi, soliditas dan pengorbanan kita
Kemenangan ini, semata anugerah Allah swt
وما النصر إلا من عند الله
_Tak ada kemenangan kecuali dari sisi Allah_
Maka dalam suasana yang hampir sama seperti ini…
Ketika Rasulullah menyusuri bebukitan Makkah, kampung halaman yang tercinta
Di atas untanya, *Quswa* yang setia
Berulang-ulang beliau lafadzkan kalimat tasbih, tahmid dan istighfar
Beliau amalkan perintah Allah dalam Surat An Nashr
Tubuh beliau terguncang-guncang dan menderas air matanya hingga janggutnya menyentuh punuk unta
Haru dan bahagia bercampur baur dan tak bisa dilukiskan dengan kata
*Kenapa tasbih?*
Karena bisa jadi sebagian kita ada yang menyimpan prasangka buruk kepada Allah; kapankah pertolongan Allah itu tiba?
*Kenapa tahmid?*
Jelas, bahwa kemenangan ini adalah anugerahNya dan atas kuasaNya
*Kenapa istighfar?*
Karena selama, sesaat dan setelah kemenangan itu kita tetaplah manusia yang jauh dari sempurna bahkan terus berlumuran dosa
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3)
Mari kita tetap merunduk dalam _tadharru’_ dan _tawadhu’_
Semoga kemenangan ini bukan _istidraj_Nya
Al Faqiir
Suhari Abu Fatih

