Meski ilmunya begitu luas, pengalamannya begitu banyak dan namanya begitu harum, Kiyai Hasyim sangat tidak suka dirinya dikultuskan oleh siapapun. Ia pun tidak suka, jika ada orang selain dirinya dikultuskan dan dimuliakan secara berlebihan, meskipun orang itu adalah gurunya sendiri.
Ketika Kiyai Kholil Madura wafat, dalam suasana masih diliputi duka Kiyai Romli datang ke Tebuireng. Kiyai Romli yang merupakan adik seperguruan Kiyai Hasyim ingin menyusun rencana haul Kiyai Kholil secara besar-besaran. Kiyai Romli merasa perlu melibatkan Kiyai Hasyim karena beliau adalah murid kesayangan Kiyai Kholil.
“Begini Kang Mas”, Kiyai Romli membuka percakapan sore itu, “Guru kita sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kira-kira bagaimana rencana Kang Mas Hasyim untuk meng-haul-i beliau”? tanya Kiyai Romli sopan dan penuh hati-hati.
Sang Kiyai yang disodori rencana seperti itu nampak kebingungan dan tak segera menjawab. Beliau bingung harus menjawab apa? Namun seperti biasa, beliau tetap tenang setiap kali menemukan persoalan dan tidak tergesa-gesa menjawabnya. Beliau perlu menyusun kalimat secara bijak dan hati-hati untuk menolak rencana tersebut agar Kiyai Romli tidak tersinggung. Setelah suasana cukup hening untuk beberapa saat, barulah beliau berkata;
“Menurut saya Dhimas, cukup kita adakan doa bersama dengan selametan secara sederhana saja”. Mendengar jawaban demikian, Kiyai Romli sontak kaget dan terheran-heran.
“Kang Mas, beliau adalah guru kita, syaikhunal mukarram. Seoang wali yang arif billah. Tidak bisakah kita memperlakukan beliau selayaknya seorang kekasih Allah. Tidak boleh kita doakan secara sederhana dan ala kadarnya seperti itu, Kang Mas. Tidak bisa. Saya ingin menjadi murid yang berbakti”. Tukas Kiyai Romli dengan nada tinggi dan terlihat sekali ketidaksukaan beliau dengan pemikiran Kiyai Hasyim.
“Dhimas, menjadi murid yang berbakti tidaklah harus dengan pemujaan yang berlebihan. Aku harap Dhimas paham dengan maksud saya”. Jawab Sang Kiyai dengan tenang sambil mendesiskan istighfar pelan sekali.
“Apa yang Kang Mas maksud dengan pemujaan berlebihan?” tanya Kiyai Romli dengan nada makin keheranan.
“Dhimas, penyimpangan ajaran tarekat atau tasawuf itu biasanya dilakukan oleh kalangannya sendiri. Saya khawatir, pemujaan secara berlebihan itu akan membuat kita lupa bahwa hanya Nabi lah yang maksum. Yang lepas dari semua kesalahan”. Jawab kiyai Hasyim.
“Saya khawatir, kalau sikap kaum Nahdhiyyin nantinya menyerupai kaum Syi’ah yang memuja Sayyiduna Ali bin Abu Thalib secara berlebihan. Bahkan sampai menganggap beliau lebih mulia daripada Kanjeng Nabi saw. Saya khawatir niat baik Dhimas itu tidak sejalan dengan keinginan Guru Kita, Kiyai Kholil”. Tambah Kiyai Hasyim dengan tegas.
Sebakda dialog sore itu, mulai merebak lagi tuduhan dan fitnah bahwa Kiyai Hasyim sekarang telah menjadi Wahabi. Tuduhan yang membuat dada Sang Kiyai teramat sesak dan berulang kali membuat air mata beliau menderas. Dalam suasana seperti inilah, Sang Penakluk Badai ini menulis “Ad Durar al Munthathirah fii Masa’il at Tisy’arah” (Mutiara-mutiara berserakan tentang sembilan masalah), sebuah kitab yang menjelaskan hakikat sufisme yang hakiki dengan merujuk karya Muhammad bin Abdul Karim, Futuhaat al Ilahiyyah.
Jauh sebelum kitab ini beliau tulis, beliau juga pernah menulis sebuah kitab sebagai reaksi ilmiah atas fakta kaum Nahdhiyyin yang amat menyesakkan dada beliau. Kitab ini adalah “Tanbihaat al Waajibaat”. Sebuah otokritik terhadap perayaan Maulid Nabi yang dicampuri maksiat dan berbagai kemungkaran. Beliau melihat dengan mata kepala sendiri sebuah perayaan Maulid Nabi yang diperingati dengan tayuban dan saweran. Laki-laki dan wanita bercampur baur tanpa batasan. Semua berjoget ria mengikuti irama gamelan yang ditabuh bertalu-talu.
Ketika Kitab ini muncul, beliaupun dituduh anti Maulid. Bahkan stigma Wahabi menyebar ke seantero negeri hingga beliau dipanggil oleh abahnya, Kiyai Asy’ari. Namun setelah beliau jelaskan sebab penulisan kitab tersebut, Kiyai Asy’ari sangat memahami buah pikiran putranya. (Disadur secara bebas dari Novel Penakluk Badai, Aguk Irawan MN).
Dan hari ini…
Seandainya Sang Kiyai masih hidup.
Dan beliau melihat realita sebagian warga Nahdhiyyin yang mengadakan perayaan haul dengan pemujaan pada para wali. Sebagian makam para wali dikeramatkan dan dipuja-puji. Bahkan tanah makamnya diambil untuk dijadikan jimat dan gembolan. Sebagian yang lain bahkan menjadikan air bekas pel lantai makam Sang wali sebagai penolak bala’ dan pendatang rezeki termasuk jodoh. Sebuah praktik yang amat jauh dari tauhid, hanya dengan dalih melestarikan tradisi.
Ditempat dan kesempatan yang lain, peringatan Isra’ dan Mi’raj diadakan dengan dangdutan yang biduannya yang setengah telanjang atau bahkan sebagiannya telanjang sungguhan. La haula wala quwwata illa billah.
Ya, jika beliau masih hidup, pastilah beliau akan kembali menjadi ‘wahabi’. Memilih serupa dengan saudara seperguruannya KH Ahmad Dahlan daripada menjadi muslim nusantara.
Dan…
Beliau akan jauh lebih prihatin jika melihat sebagian warga Nahdhiyyin begitu lembut terhadap orang kafir, namun keras terhadap sesama muslim hanya karena perbedaan pemikiran dan madzhab. Gereja-gereja mereka jaga dengan begitu rupa, namun pengajian mereka bubarkan tanpa perlu tabayyun dan duduk bersama. Suatu bentuk adu domba umat yang amat beliau benci.
Maka…
Kembali ke Khittah, bukan hanya membubarkan Partai NU dan menegaskan diri sebagai ormas, namun kembali khittah adalah kembali ke rahim Islam karena NU adalah ormas Islam. NU adalah wadah untuk memperjuangkan Islam, mulai dari menjaga keutuhan bangsa hingga melawan arus kerusakan moral; maksiat dan kemungkaran. Maksiat dan kemungkaran bukan hanya musuh agama, namun juga musuh bangsa karena bangsa ini akan keropos dan hancur jika generasinya tenggelam dalam pelacuran, seks bebas, LGBT, perjudian, Miras & Narkoba serta kemaksiatan yang lain.
Inilah misi utama setiap muslim dan seluruh ormas Islam di negara manapun, apalagi negara dengan penduduk mayoritas muslim. Misi inilah yang ditunaikan Kiyai Hasyim dengan dakwah bil Qalam (dakwah dengan pena) dan oleh karenanya beliau di tuduh wahabi.
Maka kembalilah kepada Khittah perjuangan jam’iyyah ini, saudaraku!
Hadanallahu wa iyyakum wallahu waliyyut taufiq
Lereng Merapi, 03/05/2017
Al Faqiir
SAF

