Kunci Kemenangan

Kunci Kemenangan

Hari-hari ini agaknya langit lebih mendung dari biasanya. sedang aliran udara masih terasa panas benar. Angin yang mengalirkan udara itu, semakin menambah panasnya hari-hari ini. Jika benar adanya, sepertinya alam juga telah membaca kegelisahan kaum muslimin di negri ini. Kegelisahan ini agaknya memang telah menyebar dan menyusup ke dalam setiap hati kaum muslimin. Asa hampir-hampir telah putus. Harapan telah terbang, membubung entah kemana. Sebagian besar wajah tertunduk, lesu benar mereka. semangat sudah pudar. Tinggal menunggu waktu sedikit, semangat itu akan benar-benar memudar dengan sempurna. Namun, sebagian kecil dari mereka ini terus lantang menyuarakan optimisme. Menyerukan kebenaran, membangunkan mereka yang telah putus asa, dan sebagian kecil ini, mereka adalah orang yang menyadarkan sebagian besar dari kaum muslimin. Bahwa harapan itu, benar adanya…

Peristiwa akhir-akhir ini agaknya menguras banyak energi kaum muslimin, kegelisahan yang ada harus dibaca sebagai sebuah tanda, bahwa kita sedang mengalami peristiwa besar hari ini. Tetapi itulah masalahnya,  kegelisahan itu sedang bertemu dengan pesimisme terhadap diri mereka sendiri. Ledakan besar ketidakpercayaan diri hanya akan membunuh diri mereka sendiri. Padahal mereka sangat perlu kepercayaan diri tinggi untuk melawan kekuatan musuh yang besar dan tengah mengepung mereka.

Itulah saat dimana kita mulai tak berdaya, sedangkan kekuatan musuh terlalu besar. Maka kita perlu mengingat kembali satu potongan kisah dalam peristiwa perang badar, tentang jumlah musuhnya yang jauh lebih besar dari pasukan kaum muslimin. Atau perang ahzab, atau,  perang mu`tah misalnya. Tiga ribu kaum muslimin melawan dua ratus ribu pasukan romawi, adalah jumlah yang terlalu besar dan tidak masuk dalam hitungan akal. Tetapi perhatikan kisah akhir dari perang ini. kaum muslimin menang dan pasukan romawi mengalami kekalahan. Itu sebabnya almubarakfurii menutup kisah ini dalam kitabnya, katanya, “maka, kaidah besar yang harus kita ambil dalam peristiwa itu adalah, bahwa kita harus meletakkan setiap harapan kita hanya kepada Allah. Dengan begitu hanya keimananlah yang menggerakkan seluruh amal kita. Itulah sebabnya, kemenangan dalam sejarah perjuangan kaum muslimin, saat berhadapan dengan pasukan musuh yang lebih besar jumlahnya, selalu berada pada situasi keimanan yang kuat, dan tidak menggantungkan harapan kepada ikhtiar. Bahwa, setelah usai ikhtiar yang kita lakukan secara maksimal, maka selanjutnya  serahkan seluruhnya kepada Allah. Biar Allah yang menyelesaikannya. Sebab Allah lah yang maha segalanya. Allah lah yang menurunkan rasa takut kepada musuh. Dan allah lah yang meneguhkan hati kita semuanya.“

Selalu berdzikir kepada Allah dan beristighfar kepada-Nya, adalah dua syarat penting untuk terus menerus memasok energi keimanan kita. Membaca Al Qur`an merupakan dzikir paling baik. Sedangkan fungsi dzikir itu sendiri untuk menguatkan kita agar selalu dekat kepada Allah serta pencegahan dari maksiat. Lalu, fungsi Istighfar sebagai menghambaan kita yang jauh dari kesempurnaan, maka, istighfar akan mengurangi dosa- dosa yang telah kita lakukan.

Sebab dua syarat diatas merupakan bagian penting dalam instrumen keimanan kita, yang akan selalu mendekatkan diri kita kepada Allah. Maka, menjauhkan dua syarat itu merupakan masalah besar bagi kemenangan kaum muslimin. Allah akan membukakan pintu kezaliman ditengah kaum muslimin. Itu sebabnya, bisa jadi, karena dosa-dosa kitalah Allah memberikan pemimpin zalim kepada kita, sebagaimana yang selalu kita lantunkan dalam doa-doa kita “Ya Allah, jangan karena dosa-dosa kami, engkau jadikan pemimpin kepada kami, orang yang tidak takut kepada-MU dan tidak menyayangi kami.”

Sekali lagi, mengingat Allah dan mohon ampun kepada-Nya, adalah syarat kemenangan kaum muslimin.

Maka, Sesudah semua itu, usai ikhtiar dan menyerahkan seluruhnya kepada Allah, tugas selanjutnya adalah tetap dan terus menjaga nafas perjuangan kita. sebab perjuangan ini perlu nafas yang panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam nafas panjang itu, yang kita tarik perlahan-lahan, selalu ada potongan-potongan peristiwa yang akan kita hadapi, dan tugas kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah. Barangkali Allah masih membutuhkan kita untuk berjalan di jalan ini.  Sehingga setiap nafas yang kita lalui, Allah akan selalu menyertai kita.

 

Oleh : Wahyu Pamungkas

 

Tinggalkan Komentar