Propaganda yang gencar dan lumayan berhasil dilakukan oleh kaum ‘tidak suka islam’ ialah : “Jauhilah politik! Politik itu kotor.” Walhasil, timbulah ungkapan dikalangan kaum muslim : “Aaakh… Muak aku dengan politik,” atau “Pasti ujung-ujungnya politik ni…” Serta segudang testimoni buruk dan terkesan putus asa lainnya tentang politik.
Menarik untuk dikaji lebih mendalam, bagaimana bahayanya jika seorang muslim alergi dengan politik?
Sendi kehidupan mana yang tidak lepas dari politik?… Anda makan, tidur, nonton tv, jalan-jalan, nonton bola, naik angkutan umum, menitipkan uang di bank, ikut asuransi, dengarkan ceramah, kumpul warga, dan lain-lain, bahkan buang air pun dipengaruhi oleh pembuat kebijakan.
Nah, siapakah pembuat kebijakan itu? Siapa lagi kalau bukan mereka yang secara politik mempunyai otoritas. Maka tidak heran, jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, atas izin Allah Subhanahu wata’ala tentunya, memerintahkan para sahabat hijrah ke Habasyah, kemudian meminta suaka politik ke raja Najasyi. Kemudian beliau dan para sahabatnya Hijrah pula ke Madinah, karena memang secara politik otoritas pemangku kebijakan di Mekkah tidak support kepada Agama yang dibawa Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tidak heran pula, jika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sampai mengarang kitab yang khusus membahas Siyasah (baca : politik) yang beliau beli judul : Assiyaasah Assyar’iyyah Fii Ishlahirraa’ii warra’iyyah. Al-Imam Al Mawardiy Assyafi’i pun punya kitab tentang politik, yang beliau beri judul : Al-Ahkam Assulthoniyyah.
Masih banyak ulama-ulama yang menyampaikan tentang politik dalam kitab-kitabnya. Semua itu seakan mengingatkan umat Islam, untuk punya perhatian besar terhadap politik. Bukankah Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.
Secara umum, agama Islam terdiri setidaknya dari 3 unsur, yaitu : Aqidah, Ibadah, dan Akhlak. Penerapan ketiganya akan ideal jika di support oleh pemangku kebijakan yang pro terhadap unsur tersebut.
Kalau masalahnya ialah sistem politik dan partai politik, maka menurut hemat penulis itu bisa didiskusikan secara ilmiah. Penulis yakin saudara muslim yang akhirnya memilih mendirikan partai politik telah melalui mekanisme yang panjang dan melelahkan, sehingga akhirnya mereka ber-ijtihad untuk mendirikan partai politik.
Kalau tidak selera dengan sistemnya, maka berpolitiklah agar supaya sistemnya bisa diubah sesuai selera. Atau kalau tidak sreg dengan partai politiknya, maka ber—politik – lah agar supaya ada celah untuk memberikan pengaruh. Sehingga anda bisa menjadi pemangku kebijakan tanpa partai politik.
Sekarang, anda bisa mempunyai manfaat yang lebih besar dalam menyebarkan keindahan Islam.
Jangan karena tidak selera dengan sistemnya kemudian kita tidak mengambil langkah politik.
Menyatukan umat islam itu mahal harganya, dan Allah Ridlo terhadap persatuan umat Islam, maka mari kita berpolitik agar supaya itu terwujud. Ingatlah! Merupakan bagian dari politik yang diridloi Allah Subhanahu wata’ala ketika menempatkan acuan politik, serta pilihan politik dengan apa yang diridloi olehNya.
Letakkanlah sesuatu pada tempatnya!
Ismael Muhammad Al fatih

