Ketika ada yang membenci kita, bukti kalau kita belum beranjak dari serangkaian hidup di dunia. Saat masih ada yang hobi bercemooh ria, sadarilah bahwa itu tanda kita sukses menjadi manusia. Tidak perlu sesak jiwa meski ada yang mengisi hidupnya dengan meniupkan asap kebencian terhadap sesama. Bahkan ada yang sengaja menyambung hidup dengan kesibukan mencela.
Kita tidak sedang memaklumi terselenggaranya dosa. Tetapi ketangguhan jiwa karena ditempa bukan dimanja. Tegaknya iman dalam dada diminta selama berjuang di tengah kabut angkara. Pesona surga lebih menarik bagi kita dari pada merisaukan luka yang tidak tercantum dalam list nota obat kaum pencela. Mereka mencari mangsa sampai lupa bila pusing tujuh keliling yang menimpa mereka entah putaran yang ke berapa.
Untuk mendapat bahagia tidak harus menjadi raja. Menghamba kepada Dzat yang Mahasempurna adalah jalan bahagia. Menjadi hamba Allah dengan keteguhan iman adalah sukses kita. Mengarungi samudera kehidupan dengan mengasah ketajaman akal secerdik Abu Nawas dan membelai hati selembut ketulusan Nasrudin Hoja, bagian dari rangkaian cara menghadapi tantangan yang merintangi.
“Hai.. sekarang kamu tinggal memilih mau mati dengan cara bagaimana?” Tukas sang raja kepada Abu Nawas suatu hari. Bagi siapapun tentu hal tersebut menjadi pilihan sulit yang super rumit, sedang diri belum siap mati. Tapi memang banyak kisah Abu Nawas yang mungkin sebatas parodi namun kaya inspirasi.
Dengan tergopoh-gopoh akhirnya Abu Nawas datang sesuai durasi waktu yang ditetapkan. Dengan dua tangan dipegangnya seekor ayam. Sembari merunduk hormat di depan raja dimulailah atraksi yang tak terduga: ditiupnya dubur ayam sekuat tenaga hingga sekarat. “Paduka, aku pilih mati dengan cara seperti ini,” ucap Abu Nawas ringan dengan keyakinan kali ini akan kembali memenangkan sayembara tanpa harus merendahkan.
Sedang Nasrudin Hoja harus rela pulang dari pesta jamuan, karena tuan rumah tidak berkenan dengan pakaian kumal yang dikenakannya: terlalu sederhana dan kontras dibandingkan pakaian yang dikenakan para tamu undangan lainnya. Sejurus kemudian ia datang kembali dengan mengenakan jas yang sangat bagus hingga disambut luar biasa. Tapi aksinya berlanjut ketika suguhan makanan di depannya dimasukkan ke dalam pakaian, sedang minuman disiramkan ke baju dan jasnya.
“Apa-apaan kau ini? Pesta ini tidak untuk orang gila,” hardik si penyelenggara acara dengan perasaan beraduk. Marah, benci dan kesal menyatu dalam keheranan.
“Bukankah yang diundang adalah pakaian ini? Bukan aku?” Nasrudin menunjuk pakaian yang dikenakannya. “Engkau tidak mengundangku dalam acara ini, kan? maka biarlah pakaian ini yang menikmati hidangan yang tersaji.” Jawaban yang langsung menusuk jiwa agar pandangannya tidak kepada casing belaka. Kemuliaan tidak diukur dari necisnya pakaian, namun ada pada syahdunya ketakwaan.
Ketaatan dalam kebenaran akan menemukan jalan kemenangan. Ombak yang menerjang ‘kan diterjang. Sukses merawat takwa bermakna kegembiraan menikmati gugusan jiwa yang tak tercela meski terus dicela.
قد قيل أن الله ذو ولد … وأن خير خلقه قد كهن
ما سلم الله من سب البرية .. ونبي الهدى، فكيف أنا ..؟
Allah saja dihina dan difitnah bahwa Dia punya anak.. Makhluk yang terbaik (Rasulullah SAW) juga dihina dan difitnah bahwa ia telah menyihir.
Allah saja tidak luput dari hinaan dan celaan makhluk.. Begitu pula Nabi yang membawa petunjuk,, lalu bagaimana dengan saya ..? (Imam Syafi’i rahimahullah)
إذا لم تجد لك حاقدا فاعلم أنك إنسان فاشل
Jika tidak ada yang benci kepadamu, maka ketahuilah bahwa dirimu adalah manusia yang gagal. (Mutawalli Asy-Sya’rawy)
Anshor Hasan

