Kiyai kok ditimbali?!


Suhari Abu Fatih
Pengasuh #PPM #Alfatih #Klaten

Dalam tradisi pesantren, adab dan akhlak adalah unsur terpenting dan hal yang paling utama sebelum ilmu dan kecerdasan. Santri adalah manusia berperadaban sebelum ia menjadi manusia berpengetahuan.

Hebatnya para ulama dan para kiyai zaman dulu, mereka bahkan berhasil memasyarakatkan pesantren dan memesantrenkan masyarakat di sekitarnya hingga hampir semua warga sekitar memposisikan diri sebagai santri.

Tak hanya kiyai, tapi juga keluarga dan dzuriyyatnya pada umumnya sangat dihormati oleh masyarakat sekitar. Mulai dari orang awam hingga para pejabat datang untuk ngaji dan menimba ilmu atau meminta fatwa dan doa dari sang kiyai.

Bahkan saking hormat-nya masyarakat kepada para kiyai, mereka sangat berhati-hati jika mau mengundang beliau-beliau untuk mengisi pengajian atau memimpin hajatan. Mereka akan datang langsung untuk sowan dan berhati-hati betul dalam memilih setiap diksi kata yang disampaikan. Takut kualat, kurang lebih demikian keyakinan mereka. Kenapa? Karena mereka meyakini betul bahwa para ulama dan kiyai itu pewaris para nabi.

Bahkan zaman dulu, sekelas Harun Ar Rasyid tidak bisa seenaknya mengundang Imam Malik untuk ngaji di istana. Sang Khalifah terpaksa harus ikut duduk bersimpuh di Masjid Nabawi jika ingin ngaji kepada imam Malik, bukan imam Malik yang ditimbali ke istana. Mosok kiyai ditimbali!?

Imam Malik menolak ditimbali ke istana saat itu bukan karena angkuh atau arogan, tapi dalam rangka menjaga marwah ilmu dan ulama. Itu cara beliau untuk menjaga martabat ilmu dan ulama. Gak ada ceritanya kiyai atau ulama itu arogan dan sombong.

Maka benar sekali kata Gus Baha’, bukti konkrit ketawadhu’an kiyai itu adalah beliau bersedia datang untuk mengisi pengajian. Itu bukti tawadhu’ yang luar biasa.

Hanya tiga pihak yang boleh nimbali kiyai; pertama orang tua kiyai itu sendiri, yang kedua kiyainya kiyai itu sendiri dan yang ketiga adalah Allah swt, pencipta sang kiyai itu sendiri.

Selain tiga pihak itu tidak pantas nimbali kiyai, termasuk para politikus atau pimpinan partai. Harusnya para politisi itu yang sowan kiyai jika ada keperluan, bukan sebaliknya.

Kalau ada kiyai mau ditimbali oleh para politisi, maka menurut saya ada sedikitnya tiga kemungkinan; pertama: kiyai tersebut adalah anggota partai. Posisinya sebagai kader bawahan sehingga harus datang kalau dipanggil pimpinannya.

Kemungkinan kedua: kiyai tersebut benar-benar rendah hati. Dia hanya fokus pada maslahat dan kebaikan. Karena dia berniat baik, hingga tidak perlu meributkan soal konteks agenda undangan tersebut dan lain sebagainya.

Dan kemungkinan yang ketiga: politisinya yang tidak tahu diri dan tidak memahami adab kepada kiyai. Masak kiyai ditimbali!?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *