Dalam amal islami, aktivis pergerakan itu terbagi menjadi empat level;
- Mereka yang aktif bergerak dan membangun, namun sepi di panggung dan tak mau diketahui orang banyak.
Mereka para perintis, namun setelah amal itu berbuah ia menghilang dan tidak ikut menikmati buahnya.
Orang Jawa mengistilahkan mereka ini dengan “ramai ing gawe, sepi ing pamrih”. Orang-orang pilihan yang mencapai level mukhlasin (mereka yang dijamin oleh Allah keikhlasan-nya).
- Mereka yang aktif beramal dan terus membangun namun di waktu yang sama mereka dapat panggung bahkan bisa menikmati hasil jerih perjuangannya secara langsung.
Level kedua ini terbagi dua; kelompok pertama adalah mereka yang sejak awal motivasi nya memang buah itu, bukan ridha Allah. Sedangkan kelompok kedua adalah mereka yang sejak semula tak mengharapkan kecuali Ridha Allah swt.
Kelompok kedua dari level kedua inilah golongan mukhlisin (orang-orang yang terus berusaha ikhlas)
- Mereka yang tak sedikitpun meneteskan keringat, tidak ikut membuka dompet untuk ikut urunan dan tak ada satupun ide yang pernah dilontarkan tapi merasa paling berjasa.
Mereka serupa dengan kaum yang dikatakan oleh Allah swt:
“Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang pedih” [QS: 3: 188]
- Mereka yang tak sedikitpun ikut andil dalam perjuangan dan tak sedikitpun punya rekam jejak dalam sebuah amal namun ingin merebut buah bahkan ingin menguasai pohon dan lahannya.
Mereka inilah seburuk-buruk aktivis, bahkan seburuk-buruk manusia. Mereka itulah preman tapi berjubah aktivis.
هدانا الله وإياكم لما يحب ويرضى….. ٱمين يا مجيب السائلين!
Suhari Abu Fatih
Pengasuh PPM Alfatih Klaten

