24 jam setiap hari denyut kehidupan pesantren berdetak. Kegiatan melukis masa depan, mendesain peradaban. Tak lekang oleh perkembangan zaman, keberadaannya terus berbenah dan berinovasi tanpa harus kehilangan jati diri sebagai pesantren lembah yang suci. Al-muhafadzah ‘ala qadimish sholih wal akhdu bil jadidil ashlah -menjaga nilai lama yang baik dan terus menyerap kebaharuan yang lebih baik.
Dari sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali adalah rentetan pembinaan dan pendidikan. Bahkan tidur para santri pun ditata agar tetap memiliki nilai pendidikan. Nyantri di pondok pesantren sejatinya tidak sebatas menyerap ilmu melalui wadah kegiatan belajar mengajar dalam ruang kelas. Para santri sesungguhnya belajar kehidupan di lingkungan dengan ragam pilihan untuk menyiapkan masa depan. Bertemu dengan bermacam karakter dengan lintas latar belakang.
Ada yang datang dengan tekad dan kemauan sendiri. Ada yang terpaksa oleh kemauan orang tua. Ada yang sukses beradaptasi. Ada yang menyengaja tingkah polah bagaimana bisa segera terbebas dari kerangkeng penjara suci. Ada yang melanjutkan tradisi kebaikan. Ada yang berjibaku dalam meluruskan prilaku. Ada yang terus memperbaharui ridha dan restu. Ada yang sengaja “dicampakkan” orang tua yang merasa kewalahan menangani anak dalam tingkah laku.
Ada pribadi sholih yang lahir dari trah kesholihan, dibesarkan dalam lingkungan yang baik dengan doa-doa terbaik. Tapi menjadi sangat surprise saat muncul generasi sholihin yang bertumbuh di lingkungan yang penuh dengan tantangan. Naif nian ketika memiliki jalur yang baik, tetapi ternyata membelot dari jalan cita-cita. Peristiwa demikian terjadi pula dalam rangkaian sejarah dakwah Nabi Nuh as di mana salah satu anak kandungnya sendiri memilih jalan bersebrangan dengan dakwah sang ayah.
Apa yang dialami Nabi Nuh as setali tiga uang dengan ihwal Rasulullah Muhammad ‘alaihish sholatu was salam ketika “tak mampu” menggadeng sang paman Abu Tholib ke jalan hidayah. Hal tersebut meneguhkan pemahaman bahwa hidayah merupakan anugerah Allah menurut ilmu dan iradah-Nya. Manusia berada pada titik perjuangan mendekatkan usaha kepada jalan kebenaran petunjuk-Nya.
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (القصص:٥٦)
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang menerima hidayah”. (Al Qashash: 56)
Keteguhan dan kesuksesan para Nabi dalam tanggung jawab risalah tentu tidak akan tercoreng oleh setitik kejadian yang memang di luar tugas mereka untuk menentukan kepastian hidayah ke dalam dada manusia. Semangat itulah yang semestinya mewarisi kita para pengibar bendera dakwah. Tidak pernah menyerah dalam kepungan tantangan yang menghantam. Tidak pernah berputus asa mendidik manusia meniti jalan cahaya.
Para da’i di nusantara ini juga menjadi sumber inspirasi bagi kita para penerus perjuangan. Satu di antaranya ketika ada yang melihat lingkungan para durjana diimpikannya menjadi wahana bertumbuhnya banyak kebaikan. Bukan mimpi yang mudah, apalagi mewujudkannya menjadi kenyataan. Tapi dengan izin Allah harapan itu terealisasi menjadi wadah sentral pendidikan yang kelak menjadi salah satu cikal bakal bertumbuhnya banyak pesantren di negri yang besar ini.
Gontor menjadi sebutan yang mewakili keadaan suatu desa kala dalam terawang dan jamahan dakwah beberapa kyai. Gontor singkatan dari ngGon kotor (tempat kotor) karena desa tersebut menjadi kompleksnya ragam maksiat yang sering diistilahkan dengan molimo. Dari sanalah bermula hingga kini muncul banyak Gontor dan sekian banyak pondok pesantren yang tidak bisa dilepaskan dari ruh dan semangatnya. Bahkan pondok yang usianya lebih tua dari republik Indonesia itu tidak dipungkiri telah banyak menancapkan nilai kekhasan kultur masyarakat Indonesia. Tidak mudah untuk menjaga orisinilitas nilai-nilai kepesantrenan.
Apabila ada orang tua mengeluh betapa setiap kali menjenguk nanda tercinta di pondok pesantren harus membelikan baju atau sandal baru lagi karena selalu hilang dan hilang lagi, hal demikian tidak akan menggugurkan khidmah kebajikan pondok kepada ummat ini. Pertama, kemungkinan hilangnya pakaian itu banyak faktor yang menyebabkannya, tentu tidak dimaksudkan untuk menghalalkan ghashob dan sejenisnya. Di antara kita yang pernah nyantri tentu akan lebih paham dunia pesantren.
Pengelola pondok pasti tidak hanya tinggal diam dengan hal ihwal pesantren. Betapa bagaimana tingkat perhatian kyai kepada para santri, hingga ternyata ada seorang kyai yang ketika jumlah santrinya masih puluhan beliau sampai hafal warna celana dalam para santri (laki-lakinya). Jangan ada yang punya pikiran ngeres! Bukan perkara kualat. Tapi Allah pasti punya perhitungan terhadap segala sesuatu dan apalagi menyangkut terusiknya hati para kekasih Allah di bumi Allah.
Kedua, sebaik-baik kafilah manusia yang ada jangan pernah dibayangkan bahwa mereka berubah menjelma komunitas para malaikat yang suci dari khilaf dan kesalahan. Khoirul qurun (sebaik-baik generasi) yang pernah membersamai dakwah Rasul bahkan mereka tetaplah segolongan manusia. Tentu hal ini tidak untuk menjadi alibi para da’i dan pendidik hingga alergi terhadap nasehat yang justru dapat menghidupkan hati.
Ketika ada bunga yang gugur saat belum waktunya mewangi, tentu tidak menghalangi diri kita tetap menanam benihnya. Saat buah tak seluruhnya matang dan bahkan sebagiannya barangkali busuk dan jatuh dari tangkainya, jangan menghentikan kita untuk terus menyemai dan merawat tanaman. Manakala output suatu pesantren tak seluruhnya menuai harapan, tetaplah berjuang mendidik dan menyiapkan generasi masa depan. Pesantren lahir dari rahim ummat untuk kejayaan ummat. Allahul Musta’an.
Anshor Hasan

