SHOLEH AMATIRAN

Sholeh amatiran itu seringkali menyatakan kalau nikmat terbesar dari Allah swt itu adalah nikmat iman dan Islam tapi saat hidupnya diliputi kemiskinan, ia mengeluh tidak karuan. Dipecat dari tempat kerja seolah kehilangan dunia seisinya. Tak ada simpanan di tabungan, serasa tak punya apa-apa.

Sholeh amatiran itu berbusa-busa saat bicara tentang iman. Namun saat diuji dengan sedikit cobaan, ia cepat sekali berputus asa. Lalu menaruh curiga dan prasangka buruk kepada tuhannya. Padahal ujian yang ia derita belum seberapa dibandingkan ujian kaum beriman pada zaman dahulu kala.

Sholeh amatiran itu seringkali menangis tersedu-sedu saat shalat berjamaah bersama manusia. Berderai air matanya saat memimpin doa bersama. Namun kering kerontang matanya saat shalat atau berdoa dirumahnya. Saat itu, tak ada siapa-siapa. Hanya dia dan Tuhannya. Mestinya munajatnya lebih mesra.

Sholeh amatiran itu tak merasa cukup dengan pandangan dan penilaian tuhannya atas amal dan ibadah yang ia lakukan. Shalat tahajud, tilawah Al-Qur’an, sedekah atau wirid harian yang mestinya ia rahasiakan, malah ia laporkan kepada manusia. Padahal ibadah-ibadah sunah itu disyariatkan untuk dikerjakan secara rahasia supaya masih ada yang tersisa dari amalnya.

Sholeh amatiran itu sedikit sekali memuja Tuhan. Jarang sekali merangkai shalawat untuk kekasihNya. Bahkan sebutan Sayidina untuk Nabi saja diperdebatkan dan dipermasalahkan. Namun berani datang kepada Allah swt dengan membawa seabrek permintaan. Dan seringkali memaksa tuhan agar doanya segera dikabulkan.

Sholeh amatiran itu saat senang dengan seseorang ia panggil dengan sebutan akhi (saudaraku) dan ukhti (saudariku). Namun saat berbeda jalan pikiran atau madzhab politik, keluarlah semua sumpah serapah dari mulutnya. Seolah telah berbeda keyakinan dan agama. Tak ada lagi tegur sapa. Bahkan sengaja memalingkan muka saat berjumpa.

Sholeh amatiran itu saat suka sama seorang kawan ia berkata: “Ana uhibbuka fillah, saya mencintaimu karena Allah”. Namun saat kawan tersebut keluar dari kelompoknya atau sekedar berbeda ‘ijtihad’ dengannya, tetiba musnah semua teorinya tentang ukhuwah. Lalu ia berusaha sekuat tenaga menghilangkan semua jejak kebaikan yang pernah kawan itu lakukan padanya. Seolah tak ada setitik pun sisi kebaikan pada dirinya.

Orang Sholeh amatiran itu bukan siapa-siapa. Bukan anda, bukan mereka.
Orang Sholeh amatiran itu adalah saya. Semoga Allah swt mengampuni dosa dan kesalahan saya. Amin

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamit thariq

Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *