Seri Fikih Sirah Nabawiyah Bagian 9 : Nabi Berdakwah Secara Terang- Terangan

 

Semua yang dilakukan Rasulullah dalam konteks dakwah beliau adalah atas bimbingan dan intruksi dari Allah swt, baik ketika beliau melakukan dakwah sirriyyah maupun dakwah jahriyyah. Tak ada satupun ‘policy’ dakwah yang dilakukan oleh beliau kecuali itu adalah wahyu Allah swt.

Perintah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan ini diabadikan oleh allah swt dalam QS: Al Hijr: 94;

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

Dan juga Dia perintahkan dalam QS: Asy Syuara: 214-215:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.

Setelah ayat-ayat ini turun kepada Baginda Rasul saw, beliau dengan segera melaksanaakan perintah tersebut. Beliau bergegas memanggil karib kerabat beliau. Beliau pergi ke bukit Shafa lalu berteriak: “Wahai Bani Fihr, wahai Bani Adi”, sehingga mereka berkumpul dan orang yang tidak bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tatkala mereka sudah berkumpul, Nabi saw bertanya kepada mereka: “Bagaimana pendapat kalian, jika aku kabarkan bahwa dibalik gunung ini terdapat sepasukan berkuda yang hendak menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?”. Mereka menjawab: “Sungguh kami tidak pernah mencicipi darimu dusta”.  Lalu Nabi saw berkata: “ketahuilah, sesungguhnya Aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang amat pedih”.

Ketika mendengar ucapan beliau ini, serta merta Abu Lahab bangkit dan berkata: “Celaka Engkau wahai Muhammad sepanjang hari, apakah hanya untuk hal ini Engkau mengumpulkan kami?” karena ucapan inilah Allah swt menurunkan QS: Al Lahab: 1-5: binasalah kedua tangan Abu Lahab dan Sesungguhnya Dia akan binasa. tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.kelak Dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut.

Hampir semua mufassir sepakat bahwa hal ini adalah sebab turunnya surat ini dan menjadi bukti yang sangat otentik bahwa penetang pertama bagi dakwah Islam adalah Abu Lahab. Inilah mungkin rahasia mengapa Abu Lahab diabadikan nama/kuniyahnya di dalam Al Qur’an, bukan tokoh Quraisy yang lain

Hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa diatas: 

Pertama : Pada prinsipnya dakwah (seruan kepada Allah) haruslah dilakukan secara terang-terangan, hingga tak ada satupun orang yang bisa mengatakan bahwa ia tidak pernah menerima ajakan untuk memeluk Islam. Dalam kaitan dengan prinsip inilah para ulama dakwah menegaskan satu kaidah “al Ashlu fi ad Dakwati Al Jahriyyah”, pada dasarnya dakwah adalah jahriyyah (terang-terangan).

Menyembunyikan ajaran Islam (kitman Al Islam) adalah sesuatu yang terlarang kecuali dalam kondisi darurat dan karena sebuah konsideran (mubarrir) yang kuat sebagaimana yang telah kami sebutkan. Maka Allah swt hanya mengijinkan beliau untuk melakukan dakwah sirriyyah selama kurang lebih tiga tahun saja. Sebuah masa yang terhitung amat pendek jika kita bandingkan dengan usia dakwah beliau secara umum.

Maka pada fase dakwah jahriyyah inilah Islam mengalami lompatan jumlah/kuantitas dan juga kualitas yang teramat mengagumkan. Sebuah kondisi yang memaksa para tokoh Quraisy melakukan berbagai cara untuk membendung laju dakwah.

Kedua : Dalam fase ini juga terdapat pelajaran tentang isyarat ilahiyyah bahwa akan bermunculan penentangan demi penentangan yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Oleh karena itulah Allah swt memerintahkan beliau untuk tidak menghiraukan mereka, “dan janganlah kamu pedulikan orang-orang musyrik”. Penentangan yang dilakukan oleh kaum musyrikin ini selain menjadi sunnatullah dalam dakwah, juga menjadi ujian keimanan para sahabat yang telah menyatakan keislaman mereka, karena keimanan perlu pembuktian dan ujian adalah sarananya.

Ketiga : Kembali kita disuguhi sebuah penegasan bahwa obyek pertama dakwah adalah keluarga dekat, sanak saudara dan kerabat. Oleh karenanya Allah memerintahkan beliau untuk memulai dari mereka, “dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat”. Hal ini secara otomatis menjadi terapi bagi mereka yang menyibukkan diri berdakwah diberbagai penjuru dunia, akan tetapi melupakan keluarga, istri dan anak-anak mereka sendiri.

Bahkan kita seringkali menemukan sebuah fakta banyak sekali kader dakwah yang menelantarkan keluarganya tanpa nafkah dan bimbingan karena alasan berdakwah dinegeri orang berbulan-bulan lamanya. Maka dari Sirah Nabawiyah inilah kita menyusun kurikulum dakwah kita. Dari sinilah kita mengambil petunjuk pelaksanaan dakwah kita agar dakwah yang kita lakukan prosedural dan sesuai dengan sunnah beliau.

Keempat : Islam yang didakwah oleh Nabi saw dihadapan Quraisy adalah sesuatu yang teramat asing bagi mereka, maka kita menyaksikan betapa kagetnya Abu Lahab dengan seruan Baginda Rasul saw tersebut. Hal ini menjadi sebuah fakta yanag sangat otentik bahwa Islam bukanlah Arabisme (seruan kearaban) untuk memenangkan orang-orang Arab atas bangsa-bangsa lain, juga bukan ajakan kesukuan dan fanatisme kelompok sebagaimana sering diungkapkan oleh kaum orientalis dalam tulisan-tulisan mereka.

Jika Islam adalah Arabisme, pastilah Abu Lahab tidak akan terheran-heran dan menentang. Oleh karena itulah beliau juga menegaskan bahwa hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang ada antara beliau dengan mereka tidak sedikitpun berguna dihadapan Allah swt jika mereka tidak beriman. Islam adalah seruan Allah semata yang murni dan jauh dari kepentingan-kepentingan manusia.

Kelima : Muhammad saw adalah sosok yang teramat jujur dan terpercaya, sehingga ketika beliau bertanya kepada orang-orang Quraisy, mereka mengatakan: “Sungguh kami tidak pernah mencicipi darimu dusta”. Seorang pribadi yang begitu dipercaya oleh orang-orang Quraisy. Lalu mengapa setelah dikabarkan kepada mereka bahwa beliau adalah utusan Allah, mereka berpaling? Jawabannya adalah karena kesombongan dan sikap taklid buta mereka dengan ajaran nenek moyang. Dua sikap yang amat dibenci oleh Islam. Sikap inilah yang menjadi penghalang utama seluruh orang kafir hingga hari kiamat.

Keenam : Dalam catatan sejarah, Abu Lahab adalah penentang pertama dakwah Rasulullah saw sehingga namanya diabadikan untuk terus dilaknati oleh setiap pembaca Al Qur’an, padahal banyak sekali tokoh-tokoh Quraisy yang juga menentang dakwah beliau, hanya saja Abu Lahab adalah pionernya. Pioner dalam kejahatan dan kemusyrikan.

Karena kejahatan inilah kelak Abu Lahab diganjar dengan akhir hidup yang teramat mengenaskan. Abu Lahab mati karena penyakit Lepra/Kusta. Naasnya ketika ia sudah terbujur kaku menjadi seonggoh mayat, tak ada seorangpun yang sudi memakamkan jenazahnya keran khawatir tertular penyakitnya. Hingga beberapa hari mayatnya masih belum dimakamkan, hingga orang-orang membuatkan liang lahat untuknya dan mendorongnya dengan sebuah kayu yang sangat panjang. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

 

 

Oleh : Suhari Abu Fatih, Lc

Pelayan Ma`had Al Fatih Klaten

Tinggalkan Komentar