Fikih Sirah Nabawiyah : Generasi Pertama Islam Dan Materi Pada Fase Tersebut

Setelah Allah menurunkan QS Al Muddatstsir, Baginda Rasulullah saw segera bergegas menyeru kaumnya dengan ajakan kepada Allah swt dan seruan untuk meninggalkan berhala. Setrategi yang beliau pakai pada masa ini adalah dakwah sirriyyah atau dakwah secara rahasia. Hal ini beliau atas perintah Allah swt.dan menjadi sebuah kelaziman bahwa sesuatu yang baru jika langsung diumumkan kepada manusia pastilah akan menimbulkan berbagai masalah yang tidak diinginkan.

As Saabiqun Al Awwalun

Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfury menyebutkan bahwa lama dakwah sirriyah yang dilakukan oleh beliau adalah tiga tahun. Beliau mengawali dakwahnya ini dari lingkungan terdekat; keluarga, handai taulan, kerabat dan sahabat-sahabat karib beliau. Oang-orang yang didekati oleh beliau adalah mereka yang beliau kenal memiliki kecintaan pada kebaikan, kejujuran dan kebenaran. Mereka inilah kelak yang dikenal dalam sejarah sebagai As Saabiqun Al Awwalun (generasi pertama Islam).

Dari lingkunngan keluarga beliau, orang yang pertama kali menyambut dakwah beliau adalah Khadijah binti Khuwailid ra dan Ali bin Abi Thalib ra, termasuk budak beliau; Zaid bin Haritsah bin Syarahil Al Kalaby ra. Diantara teman dan Sahabat yang pertama kali memenuhi ajakan beliau adalah Abu Bakar ra.

Setelah memeluk Islam, Abu Bakar begitu antusias untuk ikut berdakwah bersama Rasulullah, mendekati pihak-pihak yang potensial untuk mendukung dakwah Islam. Maka masuk Islamlah Ustman binAffan ra lewat dakwah Abu Bakar ra,  Zubair bin Al Awwam ra, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash Az Zhariyan, dan Thalhah bin Ubaidillah At Taymi ra. Delapan orang inilah bibit unggul Islam yang kelak akan menjadi penentu bagi kemenangan dakwah.

Shafiyyurhaman Al Mubarakfury mengatakan bahwa generasi awal Islam mencapai seratus tiga puluh orang, baik laki-laki maupun perempuan, hanya saja tidak ada data yang kongkrit terkait waktu keislaman mereka; apakah pada fase sirriyah ataukan jahriyyah?

Diantara yang dinukil oleh para penulis Sirah adalah pertemuan dan pembinaan yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah di Rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam. Beliau memilih rumah ini karena alasan keamanan, mengingat rumah ini terletak di jantung kota Makkah. Pusat kota adalah benteng pertahanan paling aman, demikian kurang lebih pikiran beliau saat itu.

Materi Dakwah Pada Fase ini

Para ulama hampir sepakat bahwa materi dakwah yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah selama fase ini adalah akidah dan akhlaq. Hal mengingat ayat-ayat Makiyyah yang turun kepada beliau selama fase ini lebih banyak berbicara tentang kedua tema ini. Akidah yang dimaksud disini adalah yang terkait dengan rububiyyah dan uluhiyyah Allah swt, keyakinan kepada akhirat, keyakinan akan tibanya hari kiamat, informasi tentang syurga dan neraka dan lain sebagainya.

Sedangkan dalam hal akhlaq beliau mengajarkan tentang kesucian jiwa, kejujuran, sifat amanah, meyambung tali silaturrahim, kesabaran dalam segala cobaan dakwah, berkata yang benar dan lain sebagainya.

Belum ada satupun kewajiban syariat yang diturunkan oleh Allah kecuali shalat pada waktu pagi dan petang hari. Sedangkan shalat lima waktu baru diperintahkan ketika peristiwa isra’ dan mi’raj, demikian penuturan Ibnu Hajar.

Ibnu Hisyam dalam  sirahnya menuturkan bahwa Nabi saw dan para sahabat ketika waktu shalat tiba, mereka menyelinap di lorong-lorong dan lembah-lembah Makkah, lalu melakukan shalat dengan sembunyi-sembunyi dan sangat rahasia. Walaupun demikian Abu Thalib pernah memergoki Nabi saw dan Ali ra sedang melaksanakan shalat. Selama fase ini beliau melakukan seluruh agenda dakwah dengan sangat tertutup dan rahasia.

Hikmah dan Ibrah

Para pembaca yang mulia, banyak sekali ibrah dan hikmah yang bisa kita petik dari fase dakwah Rasulullah ini. Pelajaran-pelajaran ini hendaknya menjadi kurikulum dalam dakwah kita ditengah masyarakat kita. Diantara hikmah dan ibrah ini adalah sebagai berikut;

Pertama :Siriyyah (kerahasiaan) bukanlah tabiat dakwah Islam. Methode ini hanyalah sebuah siasat dakwah dalam kondisi darurat disaat kekuatan yang mendominasi ummat bersifat represif. Oleh karena itulah para ulama menyatakan bahwa pada dasarnya dakwah adalah jahriyyah (terang-terangan), kecuali dalam kondisi darurat.

Tujuan dilakukannya methode ini adalah untuk menjaga dakwah yang masih berupa benih, agar ia tidak mati sebelum berkembang. Mayoritas ulama mengatakan; jika jumlah kaum muslimin sedikit atau posisinya lemah sehingga diduga keras akan dibunuh oleh para musuh mereka, maka wajib hukumnya menjaga keselamatan jiwa dengan cara menjaga kerahasiaan iman. Maka tindakan seperti tidak boleh dipahami sebagai sikap pengecut dan takut mati. Inilah juga yang menjadi alasan mengapa Rasulullah saw ketika melakukan hijrah, beliau melakukannya dengan sangat rahasia.

Setiap da’i dan gerakan dakwah yang mengalami kondisi represif, wajib hukumnya mengulang sejarah dakwah sirriyyah ini, demi menjaga agama dan jiwa mereka, sebagaimana yang pernah kita alami pada masa Soeharto dengan segala macam rekayasa intelijennya. Adalah tindakan yang teramat gegabah dan melenceng dari kurikulum dakwah Nabi, jika kita melakukan dakwah secara terang-terangan.

Akan tetapi yang teramat menakjubkan adalah kondisi yang seperti ini tidak bisa menghentikan laju dan semangat dakwah. Justru dakwah menjadi begitu intensif. Setiap pertemuan menjadi begitu dirindukan. Bahkan agenda-agenda rekruitmen menjadi begitu bertenaga. Inilah rahasia mengapa jumlah As Saabiqun Al Awwalun mencapai 130 orang? Bukanlah jumlah yang sedikit ketika itu, mengingat dakwah baru dimulai.

Kedua : Fase ini juga mengajarkan kepada kita tentang bidang ilmu intelijen dan pertahanan serta keamanan. Kerahasiaan para sahabat dalam menjalankan semua agenda dakwah menjadi seni yang luar biasa dalam bidang intelijen. Bahkan Umar bin Khattab pun tidak mengetahui keimanan adiknya, Fathimah.

Terkait pemilihan rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam yang berada di jantung Kota Makkah adalah sebuah strategi yang amat cerdas yang diambil oleh Rasulullah saw. Jika beliau memilih rumah salah seorang sahabatnya yang terpencil, pastilah mobilitas dan pertemuan mereka akan mudah terendus oleh orang-orang Qurasiy. Inilah seni pertahanan yang saya maksud. Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana para sahabat melakukan shalat? Mereka dengan sangat hati-hati menyelinap di lorong-lorong Makkah, lalu melakukan shalat.

Ketiga : Kalau kita cermati As Saabiqun Al Awwalun, kita akan dapati bahwa sebagian besar mereka ternyata adalah orang-orang yang fakir, lemah dan para budak. Mungkin sebagian orang mengira bahwa ini hanyalah kebetulan, akan tetapi kalau kita membaca sejarah para Nabi, kita akan dapati kondisi yang serupa. Simaklah firman Allah swt dalam Surat Hud: 27 berikut; Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.

Lihatlah bagaimana Fir’aun memandang rendah kepada para pengikut Nabi Musa as karena mereka adalah orang-orang yang fakir, lemah dan para budak. Walaupun demikian kelak mereka akan dimenangkan oleh Allah swt. Allah berfirman: dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka. (Al A’raf: 137)

Demikian juga ketika kita membaca kisah Nabi Shaleh yang diabadikan oleh Allah swt dalam QS: Al A’raf: 75-76: pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya?”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”. orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya Kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”.

Kenyataan ini disebabkan karena dakwah Islam adalah dakwah pembebasan manusia dari perbudakan sesama manusia kepada perbudakan kepada Allah semata. Alasan kedua adalah agar kelak, ketika Islam mencapai masa kemenangannya, tidak satupun orang mengatakan bahwa kemenangan Islam karena dukungan orang-orang yang kuat lagi kaya raya. Kemenangan Islam semata adalah karena kehendak Allah swt, bukan karena dukungan manusia.

Keempat : Perkara kedua; kalau kita cermati, kita akan menemukan bahwa sebagian besar As Saabiqun Al Awwalun adalah keluarga Nabi karena berasal dari Quraisy sebagai induk sukunya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau benar-benar memahami urgensi dakwah keluarga. Hal inilah yang beliau fahami dari firman Allah swt; dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS: Asy Syu’ara’: 214-215).

Keluarga adalah penopang dakwah yang paling kuat. Lihatlah bagaimana kegigihan Khadijah dalam membela dan memperjuangkan Islam, hingga menjelang ajalnya.

Hakikat ini juga menjadi bukti akan kuatnya pengaruh pribadi Rasulullah di mata Quraisy secara umum karena track record beliau selama ini adalah track record yang amat gemilang dan tanpa cacat sedikitpun. Disinilah daya tarik itu bermula.

Kelima : Fase ini menjelaskan kepada setiap pelaku dakwah untuk mendahulukan pelajaran-pelajaran terkait dengan aqidah dan akhlaq daripada ibadah. Hal ini bukan karena ibadah dianggap kurang penting, akan tetapi setiap ibadah haruslah dilandasi oleh aqidah yang benar dan semestinya berbuah akhlaq yang baik. Masalah ini termasuk skala prioritas dalam penyusunan materi-materi dakwah.

Aqidah yang kami maksud disini bukanlah yang sekedar bersifat theologi seperti permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama dalam asma wa sifat atau yang lain, akan tetapi aqidah yang menjadi pendorong rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya, hingga seseorang begitu ringan mengorbankan jiwa dan hartanya di jalan Allah. Aqidah yang menjadikan seorang mukmin memliki visi ukhrawi dan membenci visi materi atau kebendaan. Aqidah yang menjadi denyut nadi reformasi politik dan sosial, bukan sekedar aqidah sebagai disiplin ilmu yang dikaji secara akademis tapi kering penjiwaaan.

Wallahu A’lam Bhishshawab!

 

Oleh: Suhari Abu Fatih, Lc

Pelayan Ma`had Al Fatih Klaten Jawa Tengah

Tinggalkan Komentar