FIKIH SIRAH NABAWIYAH ; MENYENDIRI DI GUA HIRA`

Banyak pencatat sirah menyebutkan bahwa menjelang usia empat puluh tahun, tumbuhlah dalam diri Muhammad keinginan dan kecenderungan yang amat kuat untuk melakukan ikhtila’/khalwat (menyendiri).

Keinginan ini didorong oleh sebuah keprihatinan akan perilaku menyimpang kaum Quraisy berupa kesyirikan dan kerusakan moral yang semakin merajalela. Maka beliau menjauh dari keramaian manusia dan masuk ke dalam sebuah gua yang dikenal dengan Gua Hira. Sebuah gua yang terletak di Gunung An Nuur (Jabal An Nuur) sekitar dua mil dari Makkah.

Beliau melakukan ibadah dan tafakkur di dalam gua tersebut serta terus menerus, merenungkan kesesatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh Quraisy. Hanya saja beliau tidak mengetahui cara, methode dan siasat untuk memperbaiki keadaan ini. Ikhtila’ ini adalah sebuah tadbir ilahy (skenario Allah) untuk mempersiapkan beliau sebelum peristiwa besar beliau alami. Terlebih dahulu beliau di ‘jauhkan’ dari hiruk pikuk manusia.

Beliau melakukan hal ini hingga tiga tahun lamanya. Biasanya hanya beberapa hari dan terkadang hingga sebulan penuh. Biasanya beliau melakukan ikhtila’ ini dibulan Ramadhan hingga genaplah usia beliau empat puluh tahun.

HIKMAH :

1. Khalwat atau ikhtila’ atau ‘uzlah yang dilakukan oleh Nabi saw adalah skenario Allah (tadbiir rabbani) sebagai sebuah pengkondisian ruhani dan psikis agar beliau lebih siap mengemban risalah langit dan menanggung beban dan resiko dakwah yang amat besar yang akan dialami oleh beliau yaitu dijauhi hingga diusir,bahkan diperangi oleh kaumnya.

2. Khalwat ini juga menjadi saat-saat yang amat krusial bagi setiap da’i sebelum mereka menyampaikan risalah; bahwa gerakan dakwah bermula dari sikap keprihatinan akan kondisi masyarakat, baik secara aqidah maupun akhlaqiyyah. Maka, khalwat ini tidaklah boleh disalahpahami dengan meninggalkan secara total keramaian manusia. Ia hanyalah menjauh sejenak untuk kemudian berbaur kembali dalam rangka memperbaiki kerusakan yang terjadi.

3. Rahasia usia empat puluh; para pakar psikologi mengatakan bahwa usia empat puluh tahun adalah usia kematangan, bahkan usia kepemimpinan. Allah mengisyaratkan hal ini dalam firmanNya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS: Al ahqaaf:15)

Oleh : Suhari Abu Fatih, Lc
Pelayan Ma`had Al Fatih Klaten

Tinggalkan Komentar