“Ya Allah, kepadamu aku mengadukan kelemahanku, dan ketidakberdayaanku dihadapan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi mereka yang lemah dan hanya Engkaulah pelindungku!!
Kepada siapakah diriku ini hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua yang aku alami tidaklah pantas aku hiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku.
Aku berlindung pada sinar wajahMu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat, dari murkaMu yang hendak engkau turunkan kepadaku.
Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas ijinMu.
Inilah lantunan doa yang dipanjatkan Nabi pasca beliau dipersekusi di Thaif. Peristiwa ini terjadi pada Bulan Syawal tahun kesepuluh Kenabian (akhir Bulan Mei atau permulaan Juni 619 M). Thaif adalah sebuah daerah sekitar 60 mil dari Mekah. Beliau berjalan kaki, baik ketika berangkat maupun ketika pulang ditemani oleh Zaid bin Al Haritsah, hamba sahaya beliau yang kemudian diangkat menjadi anak.
Setiap kali bertemu dengan kabilah, beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam, akan tetapi tak ada respon sama sekali dari mereka.
Ketika beliau telah sampai di Thaif, beliau menemui tiga orang pemuka Thaif yaitu; Abdu Yalil, Mas’ud dan Habib. Ketiganya adalah anak-anak pemuka Thaif, Amr bi Umair Ats Tsaqafi.
Beliau mengajak mereka untuk memeluk dan membela Agama Islam. Salah seorang diantara mereka berkata; “Dialah yang telah merobek-robek kain Ka’bah, walaupun Allah mengutusmu”.
Sementara yang lain menimpali: “Mengapa Allah tidak memilih selainmu (untuk menjadi Rasul)?”. Sedangkan yang ketiga berkata: “Demi Allah! jika memang Allah telah memilihmu untuk menjadi Rasul, maka sangat berbahaya bagiku jika aku berbicara kepadamu, dan jika engkau bukanlah Rasul, maka tidaklah pantas aku berbicara sepatah katapun kepadamu”.
Lalu Baginda Nabi berdiri dan berkata: “Jika memang itu sikap kalian, maka rahasiakanlah keberadaanku!”.
Baginda Nabi tinggal di Thaif selama sepuluh hari. Tak ada seorangpun yang beliau temui melainkan pasti beliau mengajaknya untuk memeluk Islam. Akan tetapi justru mereka menolak dan mengusir beliau.
Mereka mengerahkan kaum penjahat dan kaum budak serta anak-anak kecil untuk menyerang, mencemooh dan melempari beliau dengan batu hingga beliau berlumuran darah. Zaid bin Haritsah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dan menjadi tameng hidup bagi beliau.
Mereka baru meninggalkan beliau ketika beliau berlindung di kebun milik kedua anak Rabi’ah, Utbah dan Syaibah. Kebun ini berjarak sekitar 3 mil dari Thaif. Beliau bersandar pada sebuah tiang dibawah rimbunnya kebun tersebut, lalu memanjatkan doa diatas.
Inilah cobaan diantara sekian cobaan yang dialami Nabi saw saat mengajak manusia kepada Islam. Jangankan para da’i saat ini, Nabipun pernah dipersekusi. Tak hanya diusir tapi juga dilempari batu hingga berdarah-darah. Dan perlu Anda ketahui, peristiwa diusirnya Nabi dari Thaif ini terjadi pada tahun duka cita (“Amul Huzni) ketika dua orang yang beliau cintai wafat, Khadijah dan Abu Thalib. maka peristiwa persekusi ini adalah kesedihan diatas kesedihan. ujian diatas ujian.
Namun demikian, beliau mengajarkan kita untuk tetap bersabar, bahkan ketika Jibril dan Malaikat penjaga Gunung Akbasyain menawarkan bantuan untuk menimpakan gunung tersebut kepada penduduk Thaif, Nabi berkata;
“Tidak, justru aku berharap, kelak dari rahim-rahim mereka akan lahir manusia-manusia yang menyembah Allah semata dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun”.
Dan perhatikanlah untaian doa Nabi diatas, tak ada pihak yang beliau salahkan kecuali dirinya!
Beliau bahkan menginsyafi ketidakberdayaan dan kelemahan dirinya. Dan beliau tidak mengadu kecuali kepada Allah swt.
Inilah akhlaq sang Nabi. Pandangannya kepada umatnya penuh harap dan cinta. Tak ada dendam maupun kecewa. Demikianlah semestinya, meskipun kondisi saat ini teramat berbeda; jika dulu yang mempersekusi Nabi saw adalah kaum kuffar, saat ini yang melakukan itu sebagian umat Islam sendiri yang diperalat oleh musuh-musuh Islam.
Namun yang tidak boleh luput dari catatan kita adalah bahwa siapapun yang ditemui Nabi saw selalu beliau ajak masuk Islam. inilah risalah kenabian yang saat ini ditukar oleh sebagian umat ini dengan harga toleransi, Pancasila dan Kebhinekaan. sehingga mereka memilih bersikap kasar terhadap saudara sendiri dan mesra dengan musuh-musuh Islam.
Atas kesabaran inilah, Allah mengganti kesedihan beliau ini dengan kebahagiaan; Adas, seorang pemuda dari Ninawa penjaga kebun Anggur itu masuk Islam, sekawanan jin menyatakan diri masuk Islam ketika beliau singgah di Nikhlah dan yang paling membahagiakan adalah kelak ketika penduduk Thaif datang berbondong-bondong ke Madinah untuk menyatakan diri masuk Islam.
Ingatlah, yang harus dilakukan oleh setiap da’i hanya dua; berjuang dengan sepenuh jiwa dan menyerahkan semua urusan dakwah ini kepada Allah dalam lantunan doa-doa. selama Engkau berjuang dengan niat hanya untuk menegakkan kalimat Allah, apapun yang Engkau alami adalah tebusan yang sepadan untuk mendapatkan ridha Allah.
هدانا الله وإياكم
Pelayan Mahad Alfatih
Suhari Abu Fatih

