Seri Fikih Sirah Nabawiyah Bag.11 : Propaganda dan Publikasi Syubuhat

Para pemuka Qurasiy sangat menyadari bahwa tuduhan dan pelecehan tak banyak mempengaruhi para sahabat Muhammad dan khalayak Makkah untuk menolak dakwah beliau, maka merekapun melancarkan serangan dalam bentuk yang lain yaitu dengan melakukan propaganda dan menyebarluaskan syubuhat di tengah-tengah masyarakat agar mereka menolak Muhammad atau minimal meragukan kerasulan beliau.

Allah swt berfirman: “dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?” (QS: Al Furqan: 7). Mereka mempertanyakan kerasulan Muhammad hanya karena ia manusia biasa sebagaimana mereka, bahkan mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. (QS: Al An’am: 91)

Selain kerasulan Baginda Nabi saw, mereka juga menebarkan syubuhat dalam hal keesaan Allah, kebangkitan manusia setelah mereka menjadi tulang belulang, datangnya hari kiamat, termasuk syubuhat terkait dengan paparan Al Qur’an tentang kaum terdahulu yang mereka anggap sebagai mitos. Allah berfirman; “dan orang-orang kafir berkata: “Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan Dia dibantu oleh kaum yang lain”; Maka Sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan Dusta yang besar. dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya Setiap pagi dan petang.” (QS: Al Furqan: 4-5).

Adapun keheranan mereka terkait dengan kebangkitan manusia setelah kematian berangkat dari pengingkaran mereka terhadap hari akhir dan perhitungan amal. Mereka mendustakan hari akhir karena mereka takut akan diadili atas kejahatan mereka terhadap Muhammad dan para sahabatnya selama ini. Maka mereka berkata: (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang amat ajaib”.  Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi) ?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (QS: Qaaf: 2-3)

Mereka menganggap bahwa kebangkitan adalah seseuatu yang sangat tidak masuk akal; bagaimana mungkin tulang belulang berserakan bisa dihidupkan kembali. Al Qur’an Al Karim memiliki cara tersendiri untuk mematahkan argumentasi mereka.

Allah swt berfirman: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?Bukankah Dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (QS: Al Qiyamah: 36-40).

Hikmah dan Ibrah

Black Campaign (kampanye hitam) dan propoganda negatif serta pembunuhan karakter adalah salah satu cara yang ditempuh oleh orang-orang kafir untuk menjatuhkan Islam dan para pejuang dakwah. Cara ini seringkali efektif dan mengenai sasaran, apalagi jika mereka berkolaborasi dengan sebagian umat yang telah menukar keimanannya dengan sejumput dunia.

Lihatlah ketika mereka menuduh bahwa Islam adalah agama yang sangat diskriminatif terhadap kaum perempuan dengan dalih pembagian warisan yang tidak ‘adil’. Opini negatif ini menjadi konsumsi umat ini karena diserukan orang-orang yang mereka sebut sebagai ‘cendikiawan muslim’ yang mempelajari Islam dari Barat. Mereka juga mengatakan bahwa Islam adalah agama Bar Bar yang disebarluaskan dengan pedang dan menganut hukum pidana yang sangat keji karena memerintahkan untuk membunuh orang yang membunuh dan memotong tangan orang yang mencuri serta merajam mereka yang berzina. Ini adalah sekelumit tuduhan yang sangat keji yang mereka suarakan.

Hingga saat ini mereka juga terus berupaya menuduh kepribadian baginda Rasulullah dengan berbagai cara; diantaranya mereka menuduh bahwa Rasul adalah penganut seksmaniak karena menikahi wanita dibawah umur (Aisyah ra) dan memiliki sembilan orang isteri dalam satu waktu. Adalah kewajiban setiap mukmin yang mencintai Allah dan RasulNya untuk membantah tuduhan-tuduhan semacam ini.

Mereka juga menuduh para pejuang Islam sebagai teroris dan orang-orang yang tidak memiliki toleransi. Hingga kini mereka menuduh pejuang Palestina yang berusaha keras melawan penindasan dan penjajahan sebagai kumpulan para teroris dan bahkan memasukan Hammas sebagai gerakan teroris internasional. Tuduhan ini senada dengan tuduhan Barat terhadap Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi teroris. Sebuah tuduhan yang amat dipaksakan. Bagaimana mungkin organisasi teroris bisa memenangkan sebuah pemihan umum dengan suara yang begitu fantastis? Baik Hammas maupun Ikhwan tercatat dalam sejarah sebagai pemenang pemilu dinegerinya masing-masing. Sebuah fakta tak terbantahkan bahwa mereka dicintai oleh rakyatnya. Bukankah demikian?

Wallahu A’lam!

 

Oleh: Ust. Suhari Abu Fatih, Lc

Pelayan Ma`had Alfatih Klaten

Tinggalkan Komentar