Seri Fikih Sirah Nabawiyah Bag.10 : Berbagai Cara Untuk Membendung Laju Dakwah Nabi

 

Setelah beliau melakukan dakwah secara terang-terangan (jahriyyah) dan Islam mulai terpublikasikan secara lebih masif ke tengah-tengah masyarakat Quraisy, satu per satu manusia masuk ke dalam agama Allah ini. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dan kegelisahan dalam hati para pemuka Qurasiy. Maka sebagaimana sunnatullah yang telah berlaku bagi para Nabi dan Rasul Allah, Nabipun mengalami berbagai ujian yang datang dari musuh-musuh Allah tersebut. Berbagai upaya dan cara dilakukan untuk membendung laju dakwah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:

Penghinaan dan Tuduhan Dusta

Para pemuka Qurasiy berusaha keras untuk merusak harga diri dan membunuh karakter Baginda Nabi dengan berbagai penghinaan dan tuduhan yang sangat keji dan jauh dari kenyataan. Diantara penghinaan ini adalah menyebut beliau sebagai orang gila (majnun), sebagaimana dikabarkan oleh Allah dalam QS: Al Hijr: 6: “mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila”. Para ulama mengatakan bahwa sebutan ini disematkan kepada baginda Rasul dan terus menerus diulang-ulang oleh mereka demi menghina dan melecehkan kepribadian beliau.

Mereka juga menyebut Baginda Rasul saw sebagai tukang sihir. Allah mengabarkan hal ini dalam QS: Shad; 4: “dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Sebuah ucapan dusta yang mereka tuduhkan kepada Baginda Rasul, padahal sebelum kenabian, Muhammad adalah Al Amin mereka yang tak pernah sedikitpun memiliki track record sebagai pendusta atau tukang sihir.

Secara manusiawi tuduhan, pelecehan dan penghinaan ini tetap membekaskan kesedihan dalam diri Baginda Rasulullah saw, maka Allahpun menghibur beliau: “Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; Maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan” (QS: Al Hijr: 95-97)

Hikmah dan Ibrah

Ujian dalam dakwah adalah sunnatullah yang terus akan berlaku hingga akhir zaman dan sebuah aksioma yang harus senantiasa disadari oleh setiap da’i. Pendustaan, pengingkaran dan pelecehan adalah sekelumit ujian yang harus dihadapi oleh setiap da’i termasuk baginda Rasul dan para sahabatnya. Tidak ada seorang Nabipun yang tidak diuji oleh Allah dengan caci maki kaumnya serta didustakan.

Maka wajarlah kalau Allah berfirman: “dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) Maka sungguh telah didustakan pula Rasul-rasul sebelum kamu. dan hanya kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS: Fathir; 4).

Kesempitan hidup, kemiskinan dan kekurangan harta benda adalah bentuk ujian yang lain. Orang-orang yang telah memilih jalan dakwah sebagai jalan hidupnya telah menyiapkan diri untuk ujian tersulit. Termasuk didalam ujian ini adalah lamanya jarak kemenangan yang telah sekian lama dinanti-nanti, hingga orang-orang yang lemah iman meragukan dan meninggalkan perjuangan serta orang-orang yang bersama Rasul mempertanyakan; kapan pertolongan Allah tiba?

Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS: Al Baqarah; 214)

wallahu a`lam!

 

oleh : Suhari Abu Fatih, Lc

Pelayan Ma`had Al Fatih Klaten

 

Tinggalkan Komentar