Saat kita membaca kisah Nabi Adam AS, janganlah kita lebih banyak melihatnya saat beliau memakan Buah Syurga Terlarang itu..
saat ia bersama istrinya menikmati manis dan lezat rasanya hingga tak terasa aurat mereka tersingkap…
Karena jika ini kita lakukan, kita akan mudah menjustifikasi kesalahan sebagai sifat manusiawi dan bawaan lahir atau kita akan mudah meremehkan dosa dan menganggap enteng sebuah maksiat..
Namun, lihatlah lebih banyak saat Adam menggigil ketakutan dalam penyesalan dan istighfar. Gemetar tubuh dan bibirnya karena insyaf akan kesalahan.
Duhai Rabb kami, sungguh kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami. Jika Engkau tak ampuni dosa kami, pastilah kami termasuk hambaMu yang merugi
Saat kita renungkan kisah Dzun Nun, Yunus AS jangan sekali kali terlintas di benak kita “Nabi kok ngambek” …
Jangan, selain itu adalah sikap su’ul adab, juga karena kita tidak tahu dan tidak mengalami ujian dakwah yang beliau hadapi..
Polah pongah kaumnya. Bengal bebal sifat mereka.. Dan keras cadas ucapan umatnya..
Kita tidak tahu..
Sehingga tidak pantas kita berpikir demikian, karena beliau Rasul Allah sedangkan kita bukan siapa-siapa.
Namun renungkanlah saat Yunus AS dilanda nestapa dalam riak-riak penyesalan dan i’tiraf akan kedzaliman diri dan ketidakberdayaan nya menghadapi kaumnya…
Rasakanlah desah nafas dan degup jantungnya saat ia melafazkan kalimat sayyidul istighfar
Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minadzalimin, tiada ilaah kecuali Engkau. Sungguh aku termasuk hamba-hambaMu yang dzalim
Ya, inilah tradisi istighfar para Nabi.. Istighfar yang mengantarkan mereka pada beribu keberkahan. Istighfar yang makin membuat mereka tegar..
#
Maka, lihatlah tradisi istighfar Rasulullah Muhammad saw, tujuh puluh hingga ratusan kali dalam sehari, padahal dosa-dosa telah diampuni, kesalahan telah dimaafkan dan syurga sudah menjadi jaminan.
#
Bahkan, jika ada yang mengeluh karena sulitnya mendapat keturunan, AlQur’an mengajaknya untuk banyak istighfar (QS: NUH 10-12)
Apa hubungan istigfar dengan keturunan dan kesuburan rahim, sungguh tidak ada.. Inilah logika manusia, namun Dzat yang maha mencipta tak butuh logika saat memberikan karunia-Nya
#
Saat kebun yang siap panen dilalap jago merah hingga tinggal debu tak berguna, orang yang paling bijak diantara para pemilik kebun berkata:
Subhana rabbina inna kunna dzaalimin
maha suci Rabb kami, sungguh kami adalah orang-orang yang dzalim..
Maka secercah harapan pun merekah kembali hingga berkatalah salah satunya;
Mudah-mudahan Rabb kita menggantikan dengan yang lebih baik, sungguh hanya ampunan darinya kita berharap
(QS AL QOLAM: 28-32)
Mengapa kita masih sulit istighfar padahal dosa dan kesalahan jauh lebih banyak…
Mengapa kita masih sulit istighfar padahal kita bukan siapa-siapa, kisah kita tak pernah dimuat dalam Al Qur’an atau sekedar dlm buku cerita..
Mengapa?
Hadanallahu wa iyyakum
Akhukum
Suhari Abu Fatih

