UMAR DAN KHAULAH

Lelaki tinggi besar itu tengah berdiri diatas mimbar.

Tubuhnya yang kekar dan suaranya yang menggelegar pastilah membuat siapapun yang menyimak khutbahnya akan manggut-manggut..

Bisa karena kebenaran isinya karena dia bergelar Amirul mukminin…
Gelar yang tak sembarangan..
Selain karena kapasitas keilmuan juga karena jiwa kepemimpinan..
Namun tak sedikit yang diam karena takut dan ciut nyalinya..

Bagaimana tidak, ia jawara dalam Medan perang dan jago gulat di Belantara Padang Quraisy yang gersang.

Apalagi yang dia sampaikan memang sangat masuk akal, bagaimana tidak; ia ingin batasi mahar agar tak banyak pemudi dan pemuda di masanya berlama dalam kesendirian…

Ketika ruangan itupun disapu hening, sunyi dan tenggelam dalam syahdu khutbah Sang Khalifah saat seorang wanita renta menyibak barisan jamaah..

Dengan tertatih ia mendekat..
Saat wajah telah terlihat, wanita inipun tak kalah lantang bersuara..
Meski tubuh sudah renta, namun suaranya cetar membahana..

Apa yang hendak anda perbuat wahai Umar? Allah menyebut Mahar dengan sebutan Qinthor dan Qinthor itu wahai Umar, dalam bahasa kami adalah Harta yang banyak. Mana mungkin engkau batasi sementara Allah tidak membatasinya?

Ya, wanita itu adalah Khaulah sedangkan lelaki tinggi besar yang dia interupsi khutbahnya adalah Umar Sang Khalifah…

Sekonyong-konyong Umar terhenti, dia usap dahinya yang berkeringat dan dia simak dengan seksama wanita renta itu..

Dan ajaib, tanpa perlu lama ia revisi ijtihadnya..
Ia benahi jalan pikirannya..
Ia dudukkan dirinya dihadapan hujjah baalighah yang sedang meluncur dari lisan lawan bicaranya..

Sungguh semua orang lebih memahami fiqih daripada Umar

Dalam riwayat yang lain dinyatakan:

Sungguh wanita ini benar, dan Umar salah

Demikian ucapnya memecah keheningan ruangan masjid sederhana itu..

Ya, siapa saja diantara kita jadilah Umar disaat ia memimpin. Yang lapa dada dengan teguran rakyatnya, tak membekaskan luka yang menganga dalam jiwanya…

Dan jadilah Anda Khaulah saat Anda menjadi rakyat. Bicaralah apa adanya, lugas bernas bahkan keras jika anda lihat pemimpin Anda bengkok dan salah dalam melangkah

Jangan menjadi orang ketiga maupun keempat, Anda akan binasa…

Karena tipe yang ketiga adalah pemimpin yang sibuk membela diri disaat ia jelas bersalah, berbagai argumentasi ia bangun hanya untuk mencari pembenaran…

Sedangkan yang keempat adalah rakyat yang sibuk menyalahkan disaat ada resiko perjuangan, namun dulu diam tak bersuara atau bersuara namun seperti orang bergumam, atau berbisik sendirian…
Hadanallahu wa iyyakum

Akhukum fillah
Suhari Abu Fatih

Tinggalkan Komentar