Mereka ini jumlahnya tidak sedikit. Tersebar di berbagai penjuru Korea. Rata-rata di kota-kota besar atau daerah industri. Seoul, Gimpo, Ansan, Gimhae, Daegu dan kota lain. Dan rata-rata bekerja sebagai karyawan. Jarang sekali yang menjadi supervisor atau sekelas mandor kalau dalam istilah kita.
Meski begitu, rata-rata berpendidikan. Walaupun bukan pendidikan tinggi, namun familiar dengan tekhnologi. Maklum, mereka tinggal dan bekerja di negara yang berteknologi tinggi. Negerinya Samsung dan Hyundai.
Di Indonesia, asal daerah mereka pun beragam. Namun ada kesamaan. Sama-sama daerah sulit pekerjaan. Entah karena daerahnya yang tandus seperti Pati, Purwodadi dan Blora. Atau karena tradisi masyarakatnya yang memang suka merantau seperti Cirebon, Indramayu, dan Tasikmalaya.
Namun setelah sampai di Korea, mereka sama. Sama-sama warga negara Indonesia. Dan sama-sama perantau. Jauh dari kampung halaman. Senasib sepenanggungan.
Dalam soal latar belakang keagamaan, mereka juga beragam. Memang ada lulusan pesantren, tapi jarang. Mayoritas mereka adalah Islam ‘abangan’. Yang lulusan pesantren pun tidak lantas menjamin akan lebih bersemangat dalam Syi’ar Islam daripada yang ‘abangan’. Penyakit sebagian lulusan pesantren, seringkali sudah merasa memiliki tiket masuk surga.
Bahkan ada yang dulunya preman, tukang mabuk dan senang berzina. Namun di Korea, ia beroleh hidayah. Ia perbaiki sisa hidupnya. Tidak tanggung-tanggung. Total hijrahnya.
Hampir setengah hari ia habiskan untuk bekerja, sedangkan sisanya untuk belajar agama, shalat jama’ah dan meramaikan masjid baru istirahat. Saya menyebutnya Santri Korea.
Saya bertemu salah seorang dari mereka. Tidak hanya di satu tempat. Di Gimpo ada. Di Daegu. Di Yangsan, termasuk kota barunya Seochang. Juga di Ulsan. Dan kota-kota lain yang pernah saya singgahi. Saat menjadi duta dakwah PKPU human inisiative.
Saat bertemu mereka, saya selalu teringat ungkapan hikmah para ulama;
رهبان في الليل فرسان في النهار
“Mereka itu adalah para ‘rahib’ di malam hari dan para prajurit di siang hari”.
Hal ini karena, tidak sedikit saya temukan saat malam tiba mereka Qiyamullail atau menyelesaikan wirid tilawah hariannya meski didera kantuk dan lelah karena seharian bekerja. Bahkan tak jarang yang siangnya bekerja namun tetap berpuasa.
Jangan tanya soal tantangan. Mulai dari sulitnya shalat lima waktu hingga jumatan yang bisa dihitung dengan jari. Tentu bukan karena kemauan mereka. Namun tuntutan Sajang (bos) mereka yang sering kali tidak manusiawi.
Yang tak kalah berat adalah urusan hasrat biologis. Mereka anak muda yang normal. Tentu hasrat seksual mereka juga besar layaknya anak muda lainnya. Namun Santri Korea memiliki imunitas yang luar biasa.
Bagaimana cara mereka menghadapi vulgarnya agasi-agasi (gadis) Korea? Ya, mencari komunitas perindu surga. Di masjid tempatnya. Hingga terjaga kehormatan mereka. Dan terjaga pula uang mereka. Tidak berhamburan sia-sia. Hingga sebagian mereka bahkan bisa berhaji di usia masih belia. Sedangkan sebagian nya yang lain di kirim kan ke keluarga di Indonesia. Sungguh amal yang sangat mulia nan istimewa. Tangan-tangan seperti mereka inilah yang kelak tidak akan tersentuh api neraka.
Mereka inilah, mungkin yang dikehendaki Rasulullah Saw saat menyebut tujuh golongan yang akan dilindungi saat hari kiamat, salah satunya; “anak muda yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah”. Sekaligus masuk kategori; “seorang laki-laki yang dirayu wanita. Cantik rupawan. Dari kalangan bangsawan. Namun lelaki itu berkata, “saya takut kepada Allah”. Satu lagi, “mereka itulah para lelaki yang hatinya selalu tertambat dengan masjid”. (HR Al Bukhari dan Muslim).
Itulah santri Korea. Memang tidak semua tenaga kerja di sana nyantri. Ada pula yang buruk kebiasaannya. Jahat perangainya. Tak beradab sikap. Senang foya-foya. Lupa diri dan tak sadar kalau disana ia sementara. Bahkan di dunia pun hanya sementara.
Padahal di Indonesia, dulu pernah nyantri. Faham ilmu agama. Bahkan ada yang hafal Al-Qur’an, namun murtad saat berada di Korea. Budaya Korea telah menggerusnya. Bahkan merusaknya.
Itulah manusia. Lemah. Tak berdaya, jika sendirian. Mudah di mangsa oleh setan. Sebagaimana domba yang tercecer dari kumpulan. Serigala tak perlu repot saat hendak menerkamnya. Dan tak perlu waktu lama. Itulah makna syair tombol ati Sunan Kalijaga; “kumpulono wong kang Sholeh”
Wallahu a’lam …
Suhari Abu Fatih

