Bertanya adalah kunci pembuka gerbang ilmu. Ilmu tentu agar menjadikan amal terus mengalir dalam ketundukan syahdu. Wala taqfu ma laisa laka bihi ilm, jangan beramal tanpa ilmu.
Bagaimana bertanya ternyata juga harus terbingkai ilmu, jangan sampai pertanyaan yg diajukan menjadi rancu karena tidak relevan dengan peningkatan iman dalam qalbu. Bertanyalah sesuatu yang perlu, bagi tapak langkah meniti jalan surga yang dirindu. Cukuplah pelajaran dari umat terdahulu yang rusak disebabkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu. Mendebat guru adalah adab su’ yang mengundang pilu. Para kekasih Allah adalah mereka pemangku ilmu yang menjadi sandaran umat bertanya dan mengadu. Bukan sasaran pelampiasan hawa nafsu. Jagalah para ulama’ sepanjang waktu.
ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻫْﻠَﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻛَﺜْﺮَﺓُ ﻣَﺴَﺎﺋِﻠِﻬِﻢْ ﻭَﺍﺧْﺘِﻼَﻓُﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻧْﺒِﻴَﺎﺋِﻬِﻢْ
“Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bertanya, penyingkap tabir kebodohan di sepanjang masa. Bertanyalah agar tidak ada ganjalan jiwa dalam berkarya, persembahkan ibadah terindah teruntuk Allah ‘Azza wa Jalla. Merias semesta dengan taburan kebaikan nyata dari setiap amal dan aktifitas kita yang berbalut ilman nafi’a.
Bertanya tidak dalam rangkaian merendahkan agama, remehkan pahala dg kata-kata: “hanya sunnah” tp tidak tergerak meraih pahalanya. “Ah, cuma makruh tak berdampak dosa” serta hal-hal serupa yang lemahkan diri tuk beramal menabung pahala.
Betapa istimewa shahabat Nu’man bin Qauqal yang ajukan tanya kepada Baginda: “Ya Rasul, jika aku shalat wajib, puasa Ramadhan, halalkan yang halal, haramkan yang haram dan tidak kutambah lagi sesuatu atasnya.. apakah aku layak ke surga? Baginda Nabi bersabda: Ya”. Jangan terbersit duga bahwa shahabat Nu’man adalah orang yang beramal biasa, sungguh menerawang sirahnya akan menggugah rasa kagum tak terkira; betapa beliau adalah shahabat yang nyaris menjadikan amalan-amalan sunnah “berpredikat wajib” bagi dirinya, shalat berjamaah tak pernah alpa kecuali bahwa ia selalu mengisi deretan shaf pertama di belakang Nabi yang mulia. Kakinya yang pincang tidak menghalanginya berburu seindah-indah pahala, seanggun-anggun surga. Luar biasa. Hingga syahidnya di medan laga adalah puncak cinta kepada Rabb-Nya. “…Sungguh telah kulihat dia bercengkrama dalam hijaunya surga, dan kini tiada lagi pincang di kakinya” sanjungan Nabi baginya.
Bertanyalah agar terlepas dari gulita. Bukan berburuk rupa bagi sesama. Tak beradab pertanyaan bertubi mendebat ulama’. Tak pantas pertanyaan tuk memojokkan sesama. Tak elok pertanyaan semata rekreasi keilmuan semata, berharap wajah yang fana.
ﻣﻦ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻟﻴﺠﺎﺭﻱ ﺑﻪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺃﻭ ﻟﻴﻤﺎﺭﻱ ﺑﻪ ﺍﻟﺴﻔﻬﺎﺀ ﺃﻭ ﻳﺼﺮﻑ ﺑﻪ ﻭﺟﻮﻩ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﺩﺧﻠﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺎﺭ
“Barangsiapa yang mencari ilmu dengan maksud untuk bisa mendebat ulama’ (untuk menampakkan keilmuannya di hadapan lainnya) atau untuk mendebat orang-orang bodoh (menanamkan keraguan pada orang bodoh) atau agar menarik perhatian yang lainnya (supaya orang banyak menerimanya), maka Allah akan memasukkannya dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654)
Pertanyaan adalah di antara penggugah jiwa. Jadikan sebagai penerang menapaki tangga hingga sampai pada derajat kemesraan mengabdi pada-Nya. Bukan lancang menduduki singgasana Al-Hakim yang Maha Bijaksana. Sebab surga neraka bukan kita yang tunjukkan dengan jemari kita. Mari bersibuk dg capaian ikhlas jiwa, bukan berjibaku memata-matai sesama saat bersama berlomba meraih ridha-Nya.
Bertanya sepenuh kadarnya. Sebelum tiba pertanyaan-pertanyaan mengarah kepada kita tentang bagaimana tapak demi tapak prilaku di dunia. Semoga Allah mendekap kita dalam cinta-Nya, perkenankan menikmati seasri-asri surga untuk selama-lamanya.
Anshor Hasan
Pelayan Al-Fatih Klaten

