Merdeka!
Dulu teriakan itu, benar-benar bermakna karena diucapkan sepenuh jiwa. Hanya para pejuang yang berani melantangkannya. Meski hanya satu kata, namun nyawa taruhannya. Sudah banyak contohnya. Semua meregang nyawa. Terkena pelor Belanda.
Merdeka!
Satu kata yang membangkitkan perlawanan bahkan pemberontakan. Maka para pejuang itu adalah para pemberontak pada masanya. Bahkan mengajak rakyat untuk memberontak penguasa yang ‘sah’. Hingga banyak yang dipenjara atau dibuang entah kemana.
Merdeka!
Makin lama, kata ini makin menggema di seantero Nusantara hingga puncaknya 17-8-45 Soekarno mendeklarasikan negara baru yang bernama Indonesia.
Negara baru yang menjanjikan kemakmuran dan keadilan.
Negara baru yang memberikan harapan kemandirian dan kedaulatan.
Merdeka!
Saat ini, masihkah kata ini penuh tenaga? Makin lama makin hilang maknanya. Mengapa?
Hal itu karena kata ini lebih banyak diucapkan oleh mulut-mulut yang serakah.
Mulut-mulut yang menelan apa saja yang ada dihadapannya. Seolah Ya’juj Ma’juj telah menjelma dalam diri mereka.
Merdeka!
Lalu anak-anak negeri ini begitu riangnya dengan acara tahunan memanjat pinang atau makan kerupuk dan balapan karung. Lalu merasa telah mencintai Indonesia.
Lupa kalau kekayaan alamnya masih dikuasai dan menjadi bancakan bangsa Eropa dan Amerika. Tak tersisa kecuali limbah.
Rakyat dihibur dengan dangdutan dan pesta, sedangkan sumber daya alamnya di rampok semua.
Nestapa!
Merdeka!
Tetiba para politisi pilihan rakyat yang telah merdeka ini hanya sibuk berebut kursi. Sikut kanan dan kiri. Jilat depan dan belakang. Yang penting kenyang. Tak peduli halal atau haram. Bahkan dalam kaidah mereka, semua halal kecuali satu hal; membantah ketua partainya. Adapun menyuarakan penderitaan rakyat, cukup lima tahun sekali saja; saat meminta suara.
Merdeka!
Lalu bermunculan manusia-manusia tak bertuhan. Lupa dengan nikmat Tuhan berupa kemerdekaan. Dengan entengnya menghina panggilan adzan. Mencibir mereka yang bertakbir. Mencurigai panji-panji tauhid. Tak henti menghina dan menista para ulama dan habaib.
Merdeka!
Kemudian jihad dicurigai. Yang berbicara tentangnya wajib dimata-matai. Banyak yang lupa, negeri ini merdeka lantaran jihad fisabilillah dan teriakan takbir, selain teriakan MERDEKA!
Allahu Akbar!
Merdeka!
Mestinya demikian, karena negeri ini merdeka atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa. Bukan karena ketajaman bambu runcing pejuang-pejuang kita. Atau karena cerdiknya para diplomat kita.
Maka tak perlu phobia dengan agama dan umat ini. Tanpa tetesan darah dan doa umat ini, negeri ini tak akan pernah ada.
Dan yang paling mendasar; tanpa rahmat Allah swt, kita semua bukan siapa-siapa.
Hadanalllah wa iyyakum
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

