AYO NYANTRI, AYO NGAJI

Santri bersiap mematri diri dengan nilai-nilai Islami pada para kyai di salah satu jengkal tanah yang Allah cintai. Menempa diri. Membengkeli hati. Mengisi hari-hari dengan ayat-ayat suci agar ia tertanam dalam lubuk sanubari. Menginspirasi setiap gerak aktifitas untuk menyadari diri akan kembali kepada Yang Memiliki, Allah Rabbul ‘izzati. Santri mengasah kecerdasan hakiki. –Al-kayyisu man dana nafsahu wa ‘amila lima ba’dal mauti.

Pondok pesantren di antara jengkal tanah yang suci. Allah cintai. Para wali-Nya hadir mengajari. Mendidik setiap hari. Membina sepenuh hati. Namun mesti dipahami mereka tetaplah sekumpulan manusia yang jangan dituntut berubah status sebagai makhluk langit tanpa celah yang seutuhnya suci murni. Sempurna manusia tidak berarti lepas dari khilaf sama sekali. Kyai dan kaum santri sedang memaknai fungsi: mengabdi dan menjadi khalifatullah fil ardhi. Adakala canda dan tawa tangis dan meringis berkolaborasi dalam panorama kehidupan kaum santri. Manusiawi. Menyemai mimpi-mimpi sembari membaca momentum mengejar kejayaan di pusaran juang dan kompetisi.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ. وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (المائدة: ٥٥-٥٦)

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).
Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al- Maidah: 55-56)

Saat menyadari sedang menyiapkan generasi Rabbani, relakan sepenuh keikhlasan melepas si buah hati agar setulusnya nyantri. Ayahanda para Nabi, Ibrahim Ulul ‘azmi melepas Hajar sang istri beserta Isma’il sang bayi untuk nyantri di sebuah pesantren Al-Wady (lembah yang diberkahi), padang tandus tanpa tetumbuhan dan tak berpenghuni. Serraam nian bagi pikiran dangkal saat menyikapi. Lembah barakah bagi hati yang mengerti titah Ilahi. “…idzan, lan yudhayyi’anallah bi hadzal amri.” Seru hajar meyakini.

Duhai para pewaris Nabi.. di pundak teremban amanah Ilahi, telaah ayat-ayat suci. Ayo nyantri. Tak mengapa tetap ngopi sambil ngaji. Kopi mengandung kafein yang ‘kan membangunkan diri dari tidur panjang menyongsong gairah ummat dengan kalimat Allah yang tinggi –I’lau kalimatillah fil ardhi. Ayo nyantri, siang malam ngaji menjadi tradisi yang khas sekali. Tak mesti di gedung megah menjulang tinggi. Di langgar atau surau sederhana pun kaum santri tetap teduh menyimak dawuh-dawuh kyai. Ayo nyantri!

Duhai para pewaris Negri.. ayahanda Ibrahim as terus bermunajat saat bertubi-tubi diuji tanpa henti tanpa cuti, saat Hajar dan Isma’il sedang “terkucil mengungsi,” saat mereka sedang nyantri; “…. Rabbi j’al hadza baladan aminan war zuq ahlahu minats tsamarati.” Ya Rabb.. kupinta amannya negeri. Ya Rabb.. kumohon kesejahteraan bagi pewaris negeri.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rizki mereka dari jenis buah-buahan, mudah-mudahan mereka mensyukuri.” (QS. Ibrahim: 37)

Ayo nyantri wahai para pewaris Nabi. Ayo nyantri wahai para pewaris Negeri. Ada saatnya Indonesia memimpin peradaban di muka bumi. Bangkitlah Ibu Pertiwi!

Anshor Hasan
Santri sampai mati

Tinggalkan Komentar