SANG PEMIKUL BEBAN

Kadang dua orang yang baik harus berpisah di persimpangan jalan sebagaimana Khidir dengan Musa.
Tak ada yang salah dari keduanya. Mereka sama-sama manusia pilihan Allah, hanya saja masing-masing memikul beban risalah yang berbeda.
Musa ditakdirkan sebagai pemimpin yang harus menghadapi sekeras-kerasnya Raja dan membimbing sekeras-kerasnya kaum (Bani Israel). Sedangkan Khidir, hanya memikul satu tugas yaitu hanya untuk menunjukkan kepada Musa bahwa ada manusia yang diberikan oleh Allah ilmu yang tidak diberikan kepadanya (Musa). Hanya itu, menurut sementara ulama.

Meski Musa adalah murid Khidir tapi tak ada yang bisa membantah bahwa Musa lebih ‘sukses dan lebih populer’ dibanding Sang Guru.
Sebagai bukti;
Musa adalah Nabi dan Rasul yang namanya paling banyak disebut dalam AlQuran. Bahkan para mufassir mengatakan: “Seolah-olah Al Qur’an ini diturunkan kepada Musa karena namanya lebih banyak disebut daripada nama Muhammad saw”. Dia juga mendapat gelar Ulul Azmi. Dia juga disebut Kalimur Rahman (satu-satunya manusia yang diajak bicara secara langsung oleh Ar Rahman). Dia juga dianggap tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia sehingga strategi dakwah dan ilmu kepemimpinannya masih dikaji hingga hari ini.
Sedangkan Khidir, sebagaimana guru-guru yang lain, selalu tersembunyi identitasnya. Namanya tidak disebut oleh Al Qur’an sekalipun sehingga hampir saja tak ada yang mengenalnya. Ilmunya pun tak bisa diikuti atau sekedar dipelajari. Oleh karenanya Allah menyebut jenis ilmunya “min ladunni” ilmu dari sisiku.

Kalau saya tidak takut dianggap berlebihan, saya ingin katakan: “Kurang lebih seperti itulah gambaran Rajab Thayyib Erdogan dan Necmetin Erbakan, Sang Guru”. Mr Erdogan memilih berpisah dengan Sang Guru karena beban dan tanggung jawab sejarahnya lebih besar yaitu memimpin Turki dan membuat peta jalan kebangkitan dunia Islam.
Dialah Sang Pemikul Beban. Dialah, tokoh yang memuliakan para pengungsi Suriah yang lari ketakutan karena perang tak berkesudahan. Dialah bapak anak-anak yatim Palestina yang Setia mengusap air mata mereka. Dia dan istrinya adalah tokoh muslim pertama yang mengunjungi Rohingya ketika konflik berbau sara pecah di negeri itu.
Dialah, satu-satunya tokoh muslim yang berani menampar wajah Simon Peres dan zionis Israel di forum Davos dengan kata-kata yang sangat tajam.
Sedangkan tugas Erbakan, Sang Guru hanya satu; melahirkan tokoh sebesar Erdogan.

Apakah sejarah perpisahan dua tokoh ini akan terulang di tanah air?
Wallahu a’lam

Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk Bangsa Indonesia tercinta, Rakyat Turki yang penuh inspirasi, para pengungsi Suriah, Rohingnya dan anak-anak Palestina yang terlunta-lunta dimanapun berada)

Tinggalkan Komentar