Dari sekian banyak buah-buahan yang terdapat di syurga, hanya buah dari pohon keabadian (syajarah khuld) yang tidak boleh dimakan oleh Adam. Yang dilarang itu jauh lebih sedikit dibandingkan yang diperbolehkan.
Namun karena nafsu, justru yang dilarang itulah yang paling menarik untuk didekati. Itulah tabiat manusia. Andai bukan karena nafsu yang ada dalam diri manusia, tak mungkin iblis mampu menggoda Adam dan Hawa’.
Meski iblis tahu titik lemah manusia yaitu adanya nafsu dalam dirinya, Iblis tetap mengerahkan upaya terbaiknya untuk menggoda Adam. Selain menggunakan rayuan, ia juga menggunakan sumpah atas nama Allah dan yang tidak kalah dahsyat ia bahkan menegaskan ucapannya dengan adat taukid (kata bantu untuk menegaskan ucapan) lebih dari satu:
وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ (21)
“Ia (Iblis) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa’) sesungguhnya aku benar-benar sang pemberi nasehat kepada kalian berdua (QS: Al A’raf:12)
Qatadah berkata sehubungan dengan makna ayat, bahwa iblis bersumpah dengan menyebut nama Allah, “Sesungguhnya saya diciptakan sebelum kamu berdua, saya lebih mengetahui daripada kamu berdua. Maka ikutilah saya, niscaya saya memberimu petunjuk.” (Ibnu Katsir)
Maka terjatuhlah Adam dan Hawa’ dalam maksiat dan kedurhakaan kepada tuhannya. Keduanya memakan buah terlarang itu dan akibatnya keduanya diusir dari syurga. Saat itulah Adam dan Hawa’ memohon ampunan kepada Allah:
قالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (23)
Keduanya berdoa: “Duhai Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami. Jika Engkau tak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami benar-benar akan menjadi orang yang merugi” (QS: al A’raf:23)
Berbeda dengan Adam yang meminta ampunan, Iblis justru meminta penangguhan, maka Allah mengabulkan permintaannya sebagaimana Allah juga mengabulkan doa Adam dan Hawa’.
Saudaraku, ketahuilah!
Adam adalah manusia pertama. Nafsu adalah musuh tersembunyi pertama bagi manusia. Sedangkan iblis/syetan adalah musuh yang nyata baginya.
Dan syahwat mulut (makanan) adalah godaan pertama yang menyebabkan manusia terusir dari syurga. Dan akan menjadi sebab utama tidak berhasilnya sebagian besar manusia kembali kesana.
Maka Allah turunkan syariat puasa dan Dia wajibkan tidak hanya kepada kita, namun juga umat-umat sebelum kita agar kita mampu mengendalikan nafsu kita dari dua syahwat: mulut dan kemaluan agar kita bisa kembali ke syurga. Jangankan yang haram, yang halalpun kita batasi.
Benarlah Rasulullah, ketika beliau ditanya, ‘apa penyebab paling banyak yang menjatuhkan seseorang ke neraka, beliau menjawab: mulut dan kemaluannya’. (HR Ahmad)
Maka di bulan Ramadhan nan suci ini, mari kita terus berusaha menahan godaan nafsu dan memperbanyak istighfar akan kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu agar kelak kita bisa kembali bertemu di syurga Allah swt yang kita rindu. Amin.
بارك الله فيكم،
وبالله التوفيق والهداية
Suhari Abu Fatih
Da’i Pkpu Korsel II
#RamadhaninKorea
#SafariRamadhan
#RamadhanMubarok1439H

