Tatkala aku ketahui keutamaan ilmu, aku mendahulukannya atas segala sesuatu. Bahkan aku begitu bersemangat mencari berbagai dalil untuk menegaskan bahwa menyibukkan diri dengan ilmu jauh lebih mulia daripada amalan-amalan sunah. Dan diantara pembenaran paling kuat aku suguhkan untuk mendukung kesimpulan ini adalah fenomena betapa banyaknya ahli ibadah yang terjatuh dalam kekeliruan dan kesalahan yang fatal dalam masalah ushul. Hingga hampir sempurnalah kesimpulanku dan terlenalah diriku dari ibadah-ibadah sunah.
Namun ketika kesimpulanku hampir sempurna, tiba-tiba menyeruak sebuah tanya meruntuhkan itu semua; “Lalu apa manfaat ilmumu jika engkau melalaikan amal? Apa guna pengetahuanmu jika itu tak mendorongmu untuk beramal? Dimana rasa takutmu kepada tuhanmu? Bukankah amal-amal sunah itu representasi dari ilmu dan rasa takutmu kepada Allah?
Belum sampaikah kepadamu khabar manusia terbaik yang menghabiskan malam-malamnya dengan qiyamullail hingga bengkak urat-urat kakinya? Beliaulah Al Mushthofa Muhammad saw yang meninggalkan dekapan hangat Aisyah ra untuk berduaan dengan kekasih sejatinya dimalam yang dingin membeku. Apakah kesibukkanya mengajarkan ilmu melalaikannya dari ibadah sunah?
Dengarlah lirih tangis Abu Bakar Ash Shiddiq dalam shalat hingga hampir saja ia tak mampu menyelesaikan Surat Al Fatihah yang ia baca. Adapun Umar, sungguh tampak jelas aliran air matanya membekas dipipi hingga seperti dua aliran sungai karena rasa takutnya kepada Allah swt. Ustman bin Affan jangan kau tanya ibadahnya! Ia bahkan sering mengkhatamkan al Qur’an hanya dalam satu rakaat, hingga berkatalah Ibnu Hajar; diantara tanda keberkahan adalah engkau mampu melakukan amal yang banyak pada waktu yang sedikit.
Adapun Ali bin Abu Thalib sering menangis sepanjang malam saat shalat di Mihrabnya hingga air matanya membanjiri jenggotnya. Suatu kali ia berkata menghardik dunia; “wahai dunia, tipulah selainku!”.
Sa’id bin al Musayyab selalu berada di masjid hingga tak pernah ketinggalan shalat jamaah selama empat puluh tahun lamanya. Seorang tabi’in yang lain, al Aswad bin Yazid hampir tidak putus puasanya hingga kurus kering badannya dan menguning kulitnya.
Bukankah putri Ar Rabi’ bin Khaitsam pernah bertanya kepada ayahnya: “kenapa engkau habiskan malam-malammu dengan ‘begadang’ sedangkan manusia tidur lelap hingga pagi? Beliau menjawab; “Ayahmu ini takut ditimpa adzab yang datang di malam hari?”
Adapun Abu Muslim al Khaulani selalu menggantungkan cemeti di dinding masjid dan dia cambukkan ke badannya ketika ia sedang malas. Yazid ar Raqqasyi dan Manshur bin al Mu’tamir dahulu berpuasa hingga empat puluh tahun. Sufyan Ats Tsauri pernah menangis darah karena saking takutnya kepada Allah swt. Ibrahim bin Adham pun pernah kencing darah karena hal yang sama. Demikian tutur Imam Ibnul Jauzi dalam shaidul khatir.
Wahai jiwa, janganlah engkau menipu diriku dengan kesimpulan yang melemahkanku dari amal!
Jangan ajari aku untuk mencari pembenaran atas kemalasan yang bersemayam di badan!
Jika mereka yang ilmunya bak samudera saja masih begitu dahsyat dalam menjaga amal-amal sunah, bagaimana engkau hendak menjerumuskanku pada kesimpulan yang menipu; tak mengapa meninggalkan amal-amal sunah selama dirimu sibuk dengan ilmu?
Waspadalah wahai diri!
Belangwetan, 25 Juli 2018
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

