Alkisah sebuah rumah disatroni oleh kawanan perampok. Malam itu, langit gelap gulita. Tak tampak kerlip bintang atau sorot rembulan. Benar-benar kelam.
Perkampungan tempat tempat sasaran perampokan itupun telah diselimuti mimpi.
Tak ada sedikit pun tanda kehidupan. Semua warga seolah telah meninggal dunia karena di dekap oleh lelap. Namun tidak dengan pemilik rumah tersebut.
Sang pemilik rumah bukanlah orang biasa. Ia pendekar sakti mandraguna. Tak ada tanding di medan laga. Berapa banyak musuh telah dibuatnya bertekuk lutut.
Beberapa hari sebelum malam itu tiba, ia telah memiliki firasat yang sangat kuat akan kejadian malam itu. Ia dapatkan firasat itu dari beberapa tanda.
Beberapa hari belakangan ini, banyak orang asing yang lalu lalang di sekitar rumahnya. Bahkan kata istri, sebagian mereka bertanya alamat palsu yang tak ada di daerah itu, sambil sesekali melihat ke dalam rumahnya. Istrinya pun mencium gelagat yang tak biasa dari tamu-tamu aneh itu.
Malama itu Sang Pendekar berjaga, ditemani secangkir kopi kesukaannya. Jika kantuk tiba, ia berdiri dan menggerakan badannya sembari melatih satu dua jurus andalannya. Gerakannya lincah dan pukulannya mantab. Itulah yang menakutkan musuh-musuhnya. Hingga ia mendengar suara beberapa langkah manusia. Ia matikan lampu rumahnya agar ia lebih leluasa melihat gerak-gerik mereka.
Satu, dua, tiga, empat, lima…..sembilan orang jumlahnya. Semua membawa senjata tajam. Dari kilatannya seperti sebilah katana.
Ia terus menatap tajam ke arah mereka. Hingga yakinlah bahwa mereka hanya bersembilan.
Dari gerak tubuh mereka, Sang Pendekar tahu kalau mereka perampok amatiran yang tak memiliki jurus andalan.
Langkah kakinya kasar dan cara mereka memegang katana pun seolah baru latihan. Namun ia tetap waspada. Siapa tahu mereka hanya orang suruhan. Ada aktor intelektual di balik perampokan malam itu.
Dalam keremangan malam, ia mengenali pemimpin para perampok itu. Iya, ia bukan sosok yang asing baginya.
La haula wala quwwata illaa billah…
Ternyata ia adalah anak didik yang selama ini ia ajari ilmu kanuragan, bahkan dibiayai usahanya.
Ia hampir tak percaya. Tidak mungkin ia setega itu. Merampok rumah gurunya sendiri dan sudah merencanakan jauh-jauh hari.
Apa dosa dan kesalahan yang ia lakukan kepadanya, sehingga muridnya sendiri tega melakukan kejahatan ini padanya?
Apakah mereka juga yang kerap meyatroni rumah-rumah warga bahkan perkampungan di sekitar nya hingga rasa takut dan gentar menyelimuti daerah tersebut?
Ah, ini bukan waktunya mencari jawaban atas pertanyaan itu. Ia kembali waspada. Ia tak boleh lengah karena nyawa anak istrinya yang menjadi taruhannya.
Saat keadaan dirasa telah berpihak padanya, sekelebat ia melesakkan tendangan mematikan ke arah pemimpin kawanan perampok itu hingga terpental beberapa langkah.
Sontak kawanan perampok itu terkejut dan panik luar biasa. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan perlawanan dari sang pemilik rumah. Tak biasanya ada warga yang berani melawan mereka. Ini bahaya, bisa-bisa kejahatan mereka selama ini akan terbongkar jika sampai identitas mereka ketahuan.
Dalam kondisi terjengkang menahan sakit itulah, pemimpin rampok memberi komando, “habisi dia!”… Maka anak buahnya menyerang sang pendekar secara membabi buta. Kilatan katana berseliweran di angkasa bercampur dengan suara tangkisan tangan kosong sang pemilik rumah.
Sembilan orang mengeroyok satu orang. Sungguh tak seimbang…
Bagaimana kelanjutan ceritanya, tunggu edisi selanjutnya 😅😅😅
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

