Pernah datang kepadamu seorang lelaki Badui untuk meminta bantuan. Lalu engkau memberinya sebagaimana biasa engkau lakukan kepada siapa saja yang datang meminta, tanpa pandang bulu.
Lepas itu engkau bertanya kepada lelaki tersebut: “sudahkah aku berbuat baik kepadamu?” Dengan ketus dan suara keras ia menjawab: “belum, sama sekali belum”.
Hingga tersulut lah emosi dan kemarahan sebagian sahabatmu. Hampir saja mereka mengeroyoknya, namun engkau dengan sigap mencegah mereka.
Lalu engkau bangkit meninggalkan mereka dan mengundang lelaki Badui tersebut ke rumah. Tanpa berpikir panjang engkau memberikan tambahan pemberian kepada lelaki tersebut. Lalu engkau bertanya kepadanya; “Sekarang, apakah aku telah berbuat baik kepadamu?” Ia menjawab: “Ya, semoga Allah membalas dengan balasan yang terbaik kepadamu dan keluargamu”.
Dengan sangat bijak, engkau merespon sikap laki-laki Badui tersebut. “Karena barusan ucapanmu telah menyinggung perasaan sebagian sahabatku, hendaknya anda mengucapkan kata-kata tersebut didepan mereka (publik) agar hilang ganjalan hati mereka!”. Begitu arahanmu kepadanya.
Bergegaslah lelaki Badui tersebut mendatangi kerumunan sahabatmu untuk melakukan apa yang engkau perintahkan. Lalu engkau berkata di hadapan para sahabatmu;
“إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ هَذَا الْأَعْرَابِيِّ كَمَثَلِ رَجُلٍ كَانَتْ لَهُ نَاقَةٌ، فَشَرَدَتْ عَلَيْهِ، فَاتَّبَعَهَا النَّاسُ فَلَمْ يَزِيدُوهَا إِلَّا نُفُورًا. فَقَالَ لَهُمْ صَاحِبُ النَّاقَةِ: خَلُّوا بَيْنِي وَبَيْنَ نَاقَتِي، فَأَنَا أَرْفَقُ بِهَا، وَأَعْلَمُ بِهَا. فَتَوَجَّهَ إِلَيْهَا وَأَخْذَ لَهَا مِنْ قَتَام الْأَرْضِ، وَدَعَاهَا حَتَّى جَاءَتْ وَاسْتَجَابَتْ، وَشَدَّ عَلَيْهَا رحْلها وَإِنَّهُ لَوْ أَطَعْتُكُمْ حَيْثُ قَالَ مَا قَالَ لَدَخَلَ النَّارَ”.
Sungguh perumpamaanku dan lelaki Badui ini ibarat seseorang yang memiliki unta. Lalu unta tersebut lepas. Kemudian datanglah orang banyak untuk ikut menangkapnya. Namun hal itu justru membuat unta tersebut makin kencang berlari. Maka Sang pemilik unta berkata, ‘biarkan…biar aku urus sendiri untaku, karena aku sangat menyayanginya dan aku lebih mengenalnya’. Lelaki itu terus mengikutinya hingga gelap. Ia terus memanggilnya hingga kembalilah unta tersebut dan terpeganglah tali kendalinya. Sungguh jika aku menuruti kalian saat lelaki Badui tersebut mengatakan apa yang ia katakan pastilah ia masuk neraka”.
Demikian Ibnu Katsir menukil kisahmu saat beliau menafsirkan QS: At Taubah: 128
Masya Allah…!
Engkau lebih memilih bersabar daripada melaknati lelaki tersebut. Engkau lebih memilih memberikan apa yang ia minta daripada membalas ucapan lancangnya.
Bukan saja karena engkau sangat mengenal tabiat Badui tersebut, namun lebih karena engkau tidak ingin ada yang masuk neraka diantara umatmu.
Bahkan aku melihat sisi lain keagungan sifatmu dari arahanmu kepada Badui tersebut untuk mengumumkan ucapannya di depan publik. Tentu bukan untuk mengembalikan nama baikmu di depan para sahabatmu karena namamu tetap mulia di mata para sahabatmu.
Bukan karena itu. Namun karena engkau tidak ingin ada diantara sahabatmu ada yang memendam benci dan marah kepada lelaki Badui tersebut. Karena kebencian dan kemarahan kepada orang awam adalah sebuah kesalahan.
Selalu saja ada seribu satu hikmah terkandung dalam setiap sikap dan responmu terhadap kejadian.
Aku hanya mampu menuliskan sepotong demi sepotong kisah hidupmu. Sedangkan penaku pasti kehabisan tinta untuk menuliskan keagungan sifat dan keindahan akhlakmu.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan untukmu wahai Nabiku! 😭😭😭
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih Klaten

