CINTA TANPA PERDEBATAN

Jika Amr bin Tsabit yang lebih dikenal dengan nama Al Ushairim hidup di zaman sekarang pastilah kisah perangnya yang heroik akan menjadi perdebatan. Bagaimana tidak?

Ia maju ke Medan Uhud hanya berbekal dua kalimat syahadat. Ia belum pernah shalat sama sekali. Apalagi puasa, zakat dan haji serta amal shalih yang lain.

Pastilah mereka yang kaku memegang fiqih akan menganggap Amr tidak memahami Awlawiyat; bagaimana bisa ia mendahulukan jihad daripada shalat?

Bukankah saat Nabi ditanya, ‘amal apa yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘shalat pada waktunya’. Lalu beliau ditanya lagi, kemudian apa?’ beliau menjawab, ‘berbakti kepada orang tua’. Lalu ditanya lagi, kemudian apa?’ beliau baru berkata, ‘jihad fii sabilillah’.

Zaman dulu jihadnya Amr dipuji oleh Nabi Saw dan para sahabat hingga ditulis dalam kitab-kitab sejarah, namun bisa jadi bagi sebagian orang saat ini beliau akan dibuli karena dianggap menyalahi fiqih prioritas.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Amr adalah ekspresi cinta. Saat cintanya kepada Allah dan NabiNya telah memenuhi rongga hatinya, ia tidak lagi peduli dengan perdebatan hukum seputar itu.

Saat ia melihat Sang Kekasih terluka, tersulut lah kemarahannya dan mendidih lah darahnya. Tetiba ia menjelma menjadi Singa. Tidak ia hiraukan sama sekali hujan panah dan sabetan pedang hingga ia pun tumbang dengan puluhan luka di sekujur badan. Itulah cinta. Konyol bagi sebagian orang, namun syahid dalam pandangan agama.

Orang-orang yang tidak pernah dimabuk cinta, pastilah akan menganggap syair-syair kerinduan Rabi’ah Al Adawiyah kepada Allah atau madah Al Bushiri kepada Rasulullah atau Nadhom Imam Al Barzanji berlebihan. Ghuluw fid diin, kata mereka.

Namun bagi mereka yang sedang jatuh cinta, syair-syair seperti itu hanyalah sebuah ekspresi cinta. Sebagaimana sering kita dengar anak-anak alay berkata kepada kekasihnya, ‘tanpamu aku tak berarti. Tanpamu apalah arti hidup ini. Tanpamu aku tak bisa menjalani hari-hari’. Tentu ini lebih layak dikatakan berlebihan!

Soal maulid nabi, bagi saya tidak jauh beda dengan hal ini. Perayaan itu hanyalah ekspresi cinta sebagian saudara kita kepada Rasulullah. Ungkapan syukur akan kelahiran manusia pembawa Rahmat bagi alam semesta. Jangan disoal terlalu keras, nanti makin mengeras hatimu.

Pun demikian ketika ada seorang jama’ah bertanya tentang hukum umrah. Kalau kita soal secara fiqih maka kita akan perdebatkan antara sunah ataukah wajib. Namun jika umrah itu dilakukan sebagai bentuk ekspresi kerinduan kepada Rasulullah saw, maka rindu dan cinta itu tidak pernah mengenal perdebatan.

Hadanalllah wa iyyakum

Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih


Tinggalkan Komentar