Terik sinar matahari begitu menyengat, tapi ternyata tidak menghalangi seorang nenek tua bergegas penuh semangat penuhi panggilan adzan dhuhur dari salah satu corong masjid yang berada tak jauh dari salah satu pasar tradisional di Madura -disadur dari cerita D Zawawi Imron budayawan dan tokoh Madura. Nenek itu biasa berjualan kembang di pasar. Tak nampak raut kelelahan pada wajahnya yang mulai keriput, cerah terpancar ketulusan dari aktifitas yang ditekuninya.
Setiap hari rutinitas sang nenek pergi ke pasar, saat adzan berkumandang segera melangkah menuju masjid untuk mengejar pahala sholat berjamaah. Pekerjaan nampak biasa. Tapi menjadi hal yang mengundang iba, ketika ternyata setiap hari ia tak pernah bosan membersihkan lingkungan masjid dan dengan cara yang unik: dipungutinya daun-daun kering yang berserak satu demi satu. Ia tak membutuhkan sapu. Waktu yang tersedia nampaknya sengaja diulur panjang.
Pengurus masjid tak tega dengan apa yang dilakukan si nenek. Direkrutlah seorang marbot masjid dengan tugas utama membersihkan lingkungan masjid sebelum kedatangan nenek. Tibalah hari yang mengharu biru itu, nenek menangis tersedu karena merasa kehilangan satu aktifitasnya di masjid. Pengurus takmir pun dibuatnya tak mengerti tentang apa sesungguhnya motif nenek yang tak rela pekerjaannya memunguti daun-daun itu “diserobot” orang lain.
Tidak boleh ada cerita tersebar selama nenek masih hidup dan tugas semula harus dikembalikan untuk dirinya menjadi syarat yang diajukan nenek kepada para takmir yang ingin mengetahui motif sang nenek menjalani pekerjaan tak lumrah di lingkungan masjid itu. Pengurus masjid tentu hanya bisa menyanggupi pemenuhan syarat tersebut agar tak perlu lagi ada teka teki.
“Nyoona saporah kaule nika oreng korang elmu, tape bedhen kaule terro andik hujjah cinta dhek kanjeng Nabi, kaule andik arephen lagguk neng akherat deun-deun se epele kaula teddhi sakse kecintaan bedhen kaule dhek kanjeng Nabi, saongguna kaula maos shalawat sabben mele deun kerreng kalabhen pangarep deun-deun seepele teddhi sakse e haribaan Allah (mohon maaf saya ini orang yang sedikit ilmu, tapi sangat berharap kelak daun-daun yang saya punguti akan memberikan kesaksian di hadapan Allah bahwa saya sangat mencintai Nabi dengan cara bershalawat setiap kali memunguti daun-daun kering itu).”
Masya Allah.. begitulah sang nenek mengekspresikan cintanya kepada baginda Nabi ‘alaihish sholatu was salam dengan keyakinannya bagi kebahagiaan tak terperi. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah pancaran kebahagiaan yang maha luas yang pasti tak ‘kan pernah kering mengguyur hati nurani. Ia senantiasa menjadi oase bagi jiwa-jiwa jelita yang bertabur kerinduan suci.
Nenek yang sederhana dari daerah yang dikenal dengan carok itu ternyata memiliki kelembutan hati dan menginspirasi pertunjukan cinta spesial kepada Rasulullah yang belum pernah dijumpainya di dunia, karena sebab pengaruh dari bait-bait wejangan baginda sedemikian menghunjam di hati mewujud cinta yang berbunga-bunga. Lebih lembut dan lebih semerbak mewangi dari bunga-bunga yang setiap hari menjadi dagangannya. Sungguh membuncah bahagia.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad..
Sambung menyambung ikatan cinta menyatu untuk baginda Rasul yang mulia. Dari masa ke masa. Upaya memutus kokoh ikatannya hanya ‘kan berujung sia-sia. Ia adalah ruh-ruh yang terkerahkan pada pusaran cinta. Pagelaran indah mempesona menyemai buliran-buliran bahagia. Cinta Rasul adalah melodi yang berhembus lembut menghias angkasa raya. Melebur dalam cinta-Nya.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: ٥٦)
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan haturkanlah salam kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]
“Ummati.. ummati.. ummati”, kata itu mengalun merdu meresap syahdu memesrai kesadaran kalbu. Ungkapan klimaks di ujung hayat baginda Nabi menghayati cinta yang bertasbih dan menggetarkan. Sudah cukup melukis ketulusan, menggambarkan anggunnya keikhlasan. Bukan roman picisan. Bukan cinta kacangan. Ia cinta yang merayakan keluhuran, menggelorakan kebahagiaan.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad..
Ya Allah ya Rabbi, nafas ini tak seteguh nafas Abu Bakar dalam setiap membersamai juang Nabi, tapak langkah ini tak sekuat hentakan langkah Umar bin Khoththob yang hingga syetan pun terbirit menjauh, darah ini tak securah darah Tholhah bin Ubaidillah kala membetengi Nabi dari sabetan pedang dan hujan anak-anak panah.. tapi ya Rabb persembahan munajat yang ringkih ini, rintihan puisi yang serak ini, tangis kerinduan yang tersedak ini, bahkan deru-deru kesunyian yang terhempas ini adalah melodi cinta yang hendak merambah meraih-raih cinta agung, meraba-raba cinta suci.
Cinta-Mu ya Allah. Cinta-Mu ya Ilahi. Dan cinta Rasul-Mu ya Allah. Dan cinta Nabi-Mu ya Rabbi. Dekaplah hamba yang menggigil ini dalam kelu ketak berdayaan, dalam desah yang tersengal-sengal melafadz asma-Mu..
Anshor Hasan

