PELAJARAN PRABOWO

Ada politisi Senayan yang menyindir Prabowo dengan sebutan “kucing rumahan”. Sindiran recehan. Biasa. Orang kalau terlalu berharap kepada manusia pasti akan menuai kecewa. Mungkin karena terlalu berharap pada Prabowo sehingga ia kecewa ketika Prabowo memutuskan bergabung dengan Jokowi.

Saya saja yang bukan politisi tahu, bahkan sangat tahu dalam Pilpres kemarin (2019) Prabowo tidak benar-benar ingin mengalahkan Jokowi.

Banyak kawan tidak percaya dengan saya. Kenapa? Pertama; mungkin karena saya bukan politisi. Yang kedua; mungkin karena mereka terlalu percaya pada Prabowo. Yang ketiga: mungkin karena terlalu pede akan mampu mengalahkan jokowi.

Apa indikasi kalau Prabowo tidak benar-benar ingin mengalahkan Jokowi? Mudah sekali membuat analisanya.

Pertama; ia ngotot maju lagi padahal sudah dua kali keok. Artinya, sebenarnya ia tahu kalau namanya sudah gak layak jual. Kalau ia berniat mengalahkan jokowi pastilah ia akan mengajukan calon yang lebih mampu head to head dengan jokowi.

Kedua: saat ia menunjuk cawapres, ia lebih memilih kadernya sendiri yaitu Sandiaga Uno daripada kader partai koalisinya. Sedangkan yang ketiga: ketua BPN juga ditunjuk dari internal Gerindra sendiri. Yang keempat: penyiapan saksi-saksi secara nasional juga diambil lagi oleh Gerindra. Emang gak niat menang. Selain kemaruk, tentunya. Tapi itu juga biasa dalam politik.

Karena saya punya keyakinan inilah, di pilpres kemarin saya cenderung rileks sekali. Sehari pasca pilpres tepatnya setelah saya tahu hasil quick count, saya membuat status “ayo move on”. Meskipun ditanggapi dingin oleh sebagian kawan.

Dalam status itu saya mengajak agar tidak ada lagi pembelahan masyarakat antara cebong dan kampret. Sudahlah, pilpres sudah usai. Sebutan seperti itu sangat tidak indonesia.

Saya juga pernah nulis status, “Ada akal bulus di lebak bulus”. Saya hanya ingin memberi tahu bahwa politisi selamanya politisi. Bahkan dalam status itu saya juga mengingatkan kalau prabowo itu mentor politik jokowi.

Selain itu, prabowo juga sahabat karib Megawati. Sehingga sangat tidak mungkin mereka benar-benar bermusuhan seperti anggapan kaum lugu; kaum yang terlalu cinta dengan prabowo dan terlalu benci dengan jokowi.

Saking lugunya, prabowo digambarkan sangat ‘islami’. Sampai-sampai doa Perang Badar dipakai sebagai doa kemenangan.

Bagi saya, justru pelajaran prabowo ini sangat menarik. Prabowo makin menegaskan kaidah politik yang berbunyi: “tidak ada kawan abadi dan tidak ada pula musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan yang abadi”.

Kaidah ini hampir muttafaq alaih bahkan mungkin setara dengan ijma’. Kalau sebuah kaidah sudah setingkat ijma’, maka wajib kita pegang dengan teguh agar tidak terjatuh dalam lubang yang sama dua kali.

Maksud saya: jangan sampai kita berantem hanya gara-gara pilpres karena capres-cawapresnya sendiri tidak benar-benar sedang bermusuhan. Catat!

Pelajaran lain dari prabowo: terlalu percaya kepada politisi bagi saya adalah sebuah kebodohan. Bahkan jahlun murakkab (bodoh kuadrat).

Ketika prabowo mengatakan, “saya akan timbul dan tenggelam bersama rakyat “, maka tidak perlu terlalu dipercaya. Semua politisi punya gaya agitasi seperti itu.

Maka saya kasihan sekali dengan kawan-kawan yang berangkat demo ke jakarta menjelang pengumuman pilpres hingga berjatuhan korban meninggal dunia.

Jatuhnya korban nyawa dari kalangan rakyat jelata dalam perebutan kekuasaan itu sangat tidak perlu. Nyawa rakyat jauh lebih mahal daripada kekuasaan yang sedang diperebutkan oleh para politisi. Dan keutuhan bangsa ini jauh lebih mahal dibandingkan itu semua.

Selanjutnya, mari doakan mereka agar mereka bisa bekerja secara profesional dan amanah. Terlepas dari cara yang mereka gunakan untuk meraih kekuasaan, secara de yure maupun de facto mereka adalah penguasa sah negeri kita.

Wallahu a’lam…

Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih Klaten

Tinggalkan Komentar