Orang yang ngaji Qur’an dengan sungguh-sungguh tidak akan keheranan dengan adanya pasal tentang hewan ternak yang masuk pekarangan orang lain lalu merusak tanamannya. Lalu pemilik pekarangan diberikan hak untuk menuntut denda.
Karena tema itu sudah dibahas oleh AlQur’an sejak 14 abad yang lalu. Bahkan sudah menjadi kajian diskusi hukum sejak zaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.
Coba baca ayat ini:
(وَدَاوُۥدَ وَسُلَیۡمَـٰنَ إِذۡ یَحۡكُمَانِ فِی ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِیهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ وَكُنَّا لِحُكۡمِهِمۡ شَـٰهِدِینَ. فَفَهَّمۡنَـٰهَا سُلَیۡمَـٰنَۚ وَكُلًّا ءَاتَیۡنَا حُكۡمࣰا وَعِلۡمࣰاۚ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ یُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّیۡرَۚ وَكُنَّا فَـٰعِلِینَ)
“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Dan Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat); dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya”. [Surat Al-Anbiya’ 78-79]
Tentang tafsirnya dan bagaimana Nabi Sulaiman memutuskan persoalan itu silahkan dibaca di dalam kitab-kitab tafsir para ulama yang alim allamah..
Mestinya kita malah malu, karena Belanda saja yang tidak pernah membaca dan ngaji Qur’an punya pikiran seperti itu. Lha, kita kok malah gak tahu, bahkan menganggapnya lucu. Jangan-jangan Belanda malah mengadopsi pasal ini dari Al-Qur’an. Atau jangan-jangan Belanda malah lebih faham Qur’an daripada kita. Mulo ngaji sing tenanan! Biar tahu kalau anda belum tahu apa-apa.
Para ulama fiqih juga sudah panjang lebar membahas tema ini di dalam kitab-kitab mereka. Yang pernah nyantri pasti faham. Kalau belum pernah nyantri dan tidak rajin membaca saya jamin tidak akan faham.
Bukan saya membela hukum Belanda. Atau mendukung pemerintah dan DPR dalam hal ini. Saya hanya mendukung nalar dan pikiran yang sehat dan ilmiah. Nalar dan pikiran itu akan sehat jika dituntun dan dibimbing oleh Al Qur’an.
Mestinya di hari-hari seperti ini kita memperbanyak istighfar dan introspeksi diri. Kenapa bertubi-tubi negeri ini dirundung musibah dan bencana. Kenapa kita seperti berputar-putar dalam kebingungan, seolah tak ada jalan keluar. Seperti Bani Israel yang kebingungan selama 40 tahun di lembah Tih. Padahal ada Nabi Musa di tengah-tengah mereka.
Mulo ngaji sing tenanan, ben ora gampang ikut-ikutan! Ngaji Kuwi buka Qur’an. Buka kitab-kitab para ulama. Bukan hanya kumpul-kumpul. Kalau snacknya sudah habis lalu bubar jalan.
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

