Mungkin banyak yang menganggap Megawati itu seorang pendendam karena pasca kekalahannya dengan SBY tak sekalipun ia mau bertemu dengan SBY, presiden yang terpilih secara langsung untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia itu.
Tapi itulah cara Mega untuk menjaga spirit juang kader-kadernya di seluruh Indonesia. Ia tak mau melukai perasaan para banteng yang telah dipecundangi oleh mantan menterinya itu.
Semua itu taktik politik semata. Hanya Mega yang benar-benar tahu isi hatinya, selain Allah swt tentunya. Beberapa waktu yang lalu, saat kita meyaksikan ia melayat di pemakaman Ani yudhoyono kita baru tahu kalau ia tak benar-benar dendam dengan SBY.
Adapun Prabowo. Ia seorang jenderal yang naif dan lemah. Ia sering tak berdaya dihadapan lawannya. Terlalu baik. Kalau bahasa Gusdur, ia orang paling ikhlas kepada Indonesia.
Sekian lama ia ikhlas menanggung fitnah kerusuhan 98. Ia juga ikhlas kehilangan istrinya. Ia juga ikhlas kehilangan jabatannya. Ia juga ikhlas dikhianati oleh Megawati, kawannya sendiri.
Padahal dalam politik, keikhlasan seperti yang ditunjukkan oleh Prabowo itu adalah kelemahan.
Syarat pemimpin politik itu harus obsesif alias gila kekuasaan. Bukan untuk dirinya tapi untuk rakyatnya. Ini yang dilupakan oleh Prabowo. Bahwa ia berdiri bukan sebagai pribadi, tapi sebagai pemimpin yang diharapkan oleh jutaan orang.
Telah banyak korban berjatuhan menghiasi sepanjang perjalanannya. Jangan tanya harta, waktu, tenaga dan pikiran yang telah disumbangkan para relawan. Tak terhitung nilainya. Dan itu semua seolah sirna di stasiun kereta. Hanya dengan adegan makan sate berdua.
Maka pagi tadi, saat saya mengantar anak saya ke sekolah, saya bisikkan ke telinganya; “Kelak kalau kamu jadi pemimpin politik, jangan jadi seperti Prabowo, tapi jadilah seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan”.
Saya hanya ingin napak tilas ucapan ibunda Mu’awiyah saat mendengar perkataan orang-orang Arab tentang anaknya, “Kelak anakmu, Mu’awiyah itu akan menjadi penguasa Arab”, ia menukas dengan cepat, “Tidak, justru ia akan menjadi penguasa dunia”. Obsesif sekali. Bukan naif!
Suhari Abu Fatih
Pengasuh Mahad Alfatih

