HARI KEADILAN

Seorang laki terbunuh tanpa bisa membalas, bahkan tak mampu bertanya ‘kenapa ia dibunuh?’
Tubuhnya diseret bak anjing tak berharga, padahal ia manusia yang dimuliakan tuhannya.

Anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup di masa jahiliyah oleh ayah kandungnya sendiri.
Dan tak mungkin mampu membela diri, apalagi bertanya dan membalas perlakuan keji nir kemanusiaan itu.

Hampir semua pengikut si Gulam dimasukkan ke dalam Ukhdud (parit yang menyala apinya) tanpa mampu melawan.
Satu persatu hingga tak terhitung jumlahnya.

Dan para durjana tertawa puas setiap kali melemparkan tubuh tak berdosa itu.

Namun catatan kelam kejahatan mereka diabadikan oleh Al Qur’an, bahkan Al Qur’an mengawali kisah itu dengan kalimat Qutila (binasalah) para pembuat parit.

Artinya boleh anda melaknati para pelaku kedzaliman karena itu belum sepadan dengan kejahatan mereka.

Habib An Najjar di injak-injak oleh kaumnya hanya karena ingin membela kebenaran.
Ia di hardik sebagai pahlawan kesiangan.

Mereka tertawa puas diatas ceceran ususnya yang terburai keluar dan darah yang berceceran.

Sayang saat mereka tertawa, mereka masih berada di dunia.
Adapun Habib ketika sampai di syurga, ia pun tertawa dengan kemenangan yang sebenarnya.
((( يا ليتى قومي يعلمون )))
“Aduhai andai kaumku mengetahui… “

Senyumnya lepas tanpa beban karena beban itu sudah ia tinggalkan semua di dunia.

Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa orang-orang baik itu disakiti, di fitnah bahkan dibantai tanpa bisa melakukan pembelaan dan pembalasan?
Dimana letak keadilan Allah?

Maka aku katakan, justru itulah keadilan Allah.

Seolah Allah berkata, “serahkan urusan para durjana itu kepadaku. Istirahat engkau di syurga dan tunggulah hari keadilan, engkau pasti saksikan keadilan Allah swt!”.

Mungkinkah kejahatan itu tidak dibalas? Tidak mungkin!
Jangankan antar manusia, kejahatan antar hewan saja ada qishash dan pembalasannya.

Simaklah sabda yang mulia :

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Sungguh semua hak akan dikembalikan kepada pemiliknya pada hari kiamat. Sampai diqishas kambing yang tidak bertanduk kepada kambing yang bertanduk.” (HR. Ahmad 7404 & Muslim 6745)

Kalau masih kurang yakin, bacalah lagi :

يحشر الخلق كلهم يوم القيامة البهائم و الدواب و الطير و كل شيء فيبلغ من عدل الله أن يأخذ للجماء من القرناء ثم يقول : كوني ترابا؛ فعند ذلك يقول الكافر: يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا

Semua makhluk akan dikumpulkan pada hari kiamat, binatang, hewan liar, burung-burung, dan segala sesuatu, sehingga ditegakkan keadilan Allah, untuk memindahkan tanduk dari hewan hewan bertanduk ke yang tidak bertanduk (lalu dilakukan qishas). Kemudian Allah berfirman, “Kalian semua, jadilah tanah.” Di saat itulah orang kafir mengatakan, “Andai aku jadi tanah.” (HR. Hakim 3231 dan dishahihkan ad-Dzahabi).

Jika kejahatan antar binatang saja ditegakkan keadilannya, bagaimana mungkin kejahatan manusia terhadap manusia yang lain tidak diberi balasan?
Itulah hari keadilan.

Suhari Abu Fatih
Pengasuh Ma’had Alfatih

Tinggalkan Komentar