MUHAMMAD SAW MEMBANGUN KA`BAH DAN MEREDAKAN PERSELISIHAN

Sebuah peristiwa yang juga sangat terkenal adalah keikutsertaan beliau dalam pemugaran dan perbaikan serta pembangunan kembali Ka’bah yang mulia. Said Ramadhan Al Buthi menyatakan bahwa ketika Nabi saw ikut serta membangun kembali Makkah, beliau berusia tiga puluh lima tahun.

Bukhari meriwayatkan dalam Al Jami’ As Shahih bahwa Jabir bin Abdullah berkata: “ketika Ka’bah dibangun, Nabi saw dan Abbas pergi mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw: “singkirkan kainmu diatas lutut”, lalu beliau mengikatkannya.

Nabi saw memiliki andil yang sangat besar dalam meredakan konflik yang terjadi antara kabilah terkait siapa yang paling berhak meletakkan kembali Hajar Aswad. Maka ketika beliau diminta meletakkan batu tersebut, beliau membentangkan surbannya dan meminta setiap kepala suku/kabilah memegang ujungnya dan mengangkatnya bersama-sama menuju tempat diletakkannya.

Cara inilah yang kemudian mengakhiri konflik yang terjadi karena semua merasa mendapatkan kemuliaan. Disamping itu karena mereka mengenal beliau sebagai orang yang dicintai karena sifat amanah dan kejujurannya hingga gelar Al Amin disematkan kepada beliau.

Hikmah :

Hikmah yang dapat kita ambil adalah methode beliau dalam meredam konflik dan menghilangkan kemelut tentang siapa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Sebuah methode yang menunjukkan bakat kepemimpinan yang sangat agung. Bukan sekedar bakat sebagai seorang pemimpin, akan tetapi pemimpin yang mengayomi dan menyatukan.

Dasar kepemimpinan seperti inilah yang kelak akan selalu kita lihat dalam hampir seluruh jejak kepemimpinan beliau. Setiap orang punya potensi untuk menjadi pemimpin, akan tetapi tidak semuanya memiliki potensi menjadi pemimpin yang menyatukan, mengayomi dan melayani. Maka pepatah Arab kuno mengatakan: “pemimpin suatu kaum adalah pelayannya”

Oleh : Suhari Abu Fatih, LcPelayan Ma`had Alfatih Klaten

Tinggalkan Komentar