MANGAN ORA MANGAN, SIK PENTING KUMPUL

(MAKAN TIDAK MAKAN, YANG PENTING KUMPUL)

1.
#ManganOraManganSikPentingKumpul bukan lintasan pikiran amatiran, namun hasil perenungan yang mendalam sehingga menjadi falsafah hidup yang berumur ratusan tahun
2.
#ManganOraManganSikPentingKumpul bukan ajaran untuk malas-malasan atau menghindari tantangan hidup dalam mencari makan
3.
#ManganOraManganSikPentingKumpul bukan pula larangan untuk berpetualang menjelajah dunia, karena nenek moyang kita adalah pelaut yang menaklukan samudra nan luas membentang
4.
#ManganOraManganSikPentingKumpul adalah kaidah tentang persatuan, ikatan, soliditas, kohesi, bahkan kebhinekaan yang tunggal ika. Saling melindungi dan menjaga. Tak berebut makanan hingga saling sikut menyikut. Rusak persaudaraan karena nampan. Hancur kekeluargaan karena warisan.
5.
#ManganOraManganSikPentingKumpul adalah falsafah suku jawa yang paling unik. Penggalan pertamanya (mangan ora mangan) seolah mengajak harakiri secara massal, namun seorang yang wasis akan fokus pada penggalan yang kedua (sik penting kumpul). Dan kumpul secara emosi jauh lebih penting daripada kumpul secara fisik. Itulah intinya.
6.
#ManganOraManganSikPentingKumpul bahkan ajaran tentang ukhuwwah dan mahabbah bagi setiap penghuni rumah, karena sebagian rumah kita saat ini mulai terasa gerah. Penghuninya saling curiga dan berbantah-bantah. Suami istri sering bertengkar tanpa bisa dicegah.
7.
Sementara itu sebagian anak-anak di rumah tersebut merasa bahwa ayah mereka telah berlaku kurang adil karena lebih mengutamakan anak pungut daripada anak-anak kandung yang sah. #ManganOraManganSikPentingKumpul
8.
Sedangkan sebagian yang lain meyakini kekacauan ini muncul karena kehadiran orang lain, namun tak mudah membuktikan karena orang yang disebut itu ibarat angin atau garam yang telah menyatu dengan air. Terasa namun tak kasat mata.#ManganOraManganSikPentingKumpul
9.
Ada juga yang menganggap ada ketidakadilan yang telah dilakukan sang ayah terhadap kakak tertua mereka yang telah berjasa menegakkan rumah disaat badai hampir saja merobohkannya.
Setelah badai berlalu, justru sang kakak disingkirkan bahkan dituduh dialah yang telah menciptakan badai agar ia bisa tampil sebagai pahlawan penyelamat rumah. #ManganOraManganSikPentingKumpul
10.
Sebaliknya, sebagian anak yang berseberangan menuduh mereka yang bersikap kritis sebagai pembangkang. Durhaka pada orang tua. Tak bisa balas budi. Bahkan sampai diqiyaskan dengan malin kundang. Entahlah, sejak kapan cerita fiksi menjadi dalil agama? #ManganOraManganSikPentingKumpul
11.
Dulu, waktu mereka menderas Al Qur’an di serambi-serambi masjid kampus yang senyap. Merunduk dalam khusyu’ yang penuh tadharru’, mereka saling mendekap dalam hangat. Wajah yang satu merindukan yang lain. Seminggu tak berjumpa serasa sewindu. Namun sekarang… ah entahlah, suasana itu tetiba sirna bagai kabut diterpa sinar mentari pagi. #ManganOraManganSikPentingKumpul
12.
Mungkinkah sejarah Nabi berulang dengan lakon yang berbeda? Tak pernah kita temukan persengketaan antar sahabat nabi yang mulia hingga kemenangan dalam perang Badar menyuguhkan kue bernama ghanimah. Hampir pecah persaudaraan karena secuil dunia yang fana. #ManganOraManganSikPentingKumpul
13.
Namun Allah swt sangat mencintai mereka, maka Dia turunkan petunjukNya (Surat al Anfal) yang memutus pertikaian dan mengobati hati yang saling mendendam. Berkata salah seorang mereka : “Ayat-ayat ini ( Surtal Anfal) saat akhlaq kami sedang rusak (karena ghanimah)”. #ManganOraManganSikPentingKumpul
14.
Mungkinkah, anak-anak muda yang terbina dalam pertemuan pekanan itu bisa tergoda dunia? Bukankah mereka anak-anak yang shalih? Bukankah mereka lulusan pesantren dan kampus-kampus terbaik? #ManganOraManganSikPentingKumpul
15.
Hai orang yang merasa lebih suci dari para sahabat Nabi? Wahai manusia yang merasa dirinya lebih mulia dari Abu Bakar, Umar dan Ustman serta Ali! Siapa kalian dibandingkan sahabat-sahabat Nabi? Apakah jiwa kalian lebih suci dari jiwa-jiwa mereka? Jika dahulu mereka saja pernah bertengkar karena ghanimah, bagaimana mungkin kalian mengatakan tidak berlaku itu bagi kami? #ManganOraManganSikPentingKumpul
16.
Ketahuilah, hampir semua permusuhan dan persengketaan sebab utamanya adalah hubbud dunya wa ri’ayasah (cinta dunia dan kedudukan) lalu memperturutkan hawa nafsu dan ego keakuan. #ManganOraManganSikPentingKumpul
17.
Diagnosalah hatimu lalu akuilah! Karena mengakui penyakit adalah awal penyembuhan. #ManganOraManganSikPentingKumpul
18.
Apalah arti jabatan, popularitas, dan kekuasaan jika rumahmu hangus terbakar oleh dendam dan permusuhan. Bagaimana kelak kalian mempertanggungjawabkan ketika jiwa kalian menghadap Rabbnya dengan membawa dendam? #ManganOraManganSikPentingKumpul
19.
Sungguh berkumpul bersama keluarga dengan wajah-wajah yang bersahaja dan saling menjaga jauh lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya. Itulah baiti jannati dalam pergerakan. #ManganOraManganSikPentingKumpul
20.
Maka, #ManganOraManganSikPentingKumpul masih sangat relevan dan akan terus relevan dengan zaman karena ia intisari ajaran islam.

Wallahu waliyyut taufiq

Al Faqiir, Suhari AF
Pelayan Mahad Alfatih Klaten

Tinggalkan Komentar