KENAPA HARUS KECEWA?

Soal kecewa, semua orang pasti pernah mengalami. Baik dalam skala besar, sedang maupun kecil. Itu sifat manusiawi. Wajar dan bahkan bisa menjadi katarsis jika disalurkan secara tepat.

Banyak suami yang kecewa dengan istrinya karena jauh dari ekspektasinya sebelum menikah dulu. Sang suami sangat ingin jika istrinya adalah wanita yang rapi, bersih dan cekatan. Namun ternyata tidak demikian.

Tidak sedikit para istri yang kecewa dengan para suami karena tidak sesuai impiannya. Sang istri berharap suaminya adalah laki-laki yang romantis dan penuh perhatian, ternyata setelah menikah suaminya biasa saja. Romantis tidak, perhatian juga tidak.

Sebelum bergabung dengan sebuah lembaga, kita juga sering mengira bahwa lembaga itu adalah lembaga yang luar biasa, ternyata biasa saja bahkan kita temukan banyak ketidak-idealan di sana dan di sini. Kita lupa kalau semua itu berproses.

Seorang ustadzpun kadang kecewa dengan jamaah karena beberapa sebab. Sebagai contoh : saat di undang untuk mengisi pengajian walimahan, ternyata di lokasi acara sudah ada grup campur sari lengkap dengan menu lagu-lagunya yang tidak karuan itu. Masak kiyai dikalahkan dengan penyanyi?

Saya sendiri mengalami kejadian seperti ini sebanyak dua kali. Dan cukup dua kali, kata Nabi. Saya tidak boleh terjatuh dalam lubang yang sama dua kali.

Sebagian jamaah sayapun, katanya ada yang kecewa dengan saya. Katanya, pasca pilpres ini saya cenderung melunak. Sebenarnya, bukan melunak tapi saya pun kecewa dengan capres yang kemarin saya dukung.

Bagaimana tidak kecewa? Dia yang paling lantang mengatakan banyak terjadi kecurangan di sana-sini. Dia berjanji akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Bahkan di depan banyak orang, dia bilang, “saya akan timbul dan tenggelam bersama rakyat”. Ah ternyata, pret!

Sekian banyak korban nyawa berjatuhan, baik dari anggota kpps dan demonstran loyalisnya belum juga di usut, dia sudah mengucapkan selamat kepada incumbent. Lebih cepat daripada 2014.
Hanya karena ingin disebut sebagai negawaran?

Maka dalam kondisi kecewa, siapa saja perlu bertanya: “Kenapa harus kecewa? Apa motivasimu saat melakukan sesuatu?

Dalam soal ngaji umpamanya; “apakah niat ngajimu benar-benar karena Allah atau ingin pujian manusia atau karena pribadi ustadznya?”

Dalam hal politik: “apa motivasimu saat mendukung calon tertentu, apakah karena pribadinya atau karena pertimbangan maslahat dan mafsadat?”.

Daftar pertanyaan seperti ini menjadi sangat penting dihadirkan kembali saat kita dilanda kecewa agar kecewa tersebut tetap ilmiah dan tidak bersifat emosional.

Dan satu hal yang pasti, karena kita ini manusia biasa, maka perlu menyadari bahwa terkadang kita membuat orang lain kecewa dan kadang orang lain pun kecewa dengan kita. Itu biasa dan boleh saja.
Yang tidak boleh itu; berhenti ngaji hanya gara-gara kecewa, apalagi hanya gara-gara pilpres. Termasuk tidak boleh memutus persahabatan dan persaudaraan hanya karena kecewa.

Semua sebab kekecewaan itu umumnya karena kita terlalu over estimed terhadap sesuatu atau seseorang. Terlalu besar harapan. Dan terlalu perfeksionis. Maka dalam soal apa saja, jangan terlalu. Biasa saja!

Wallahu a’lam…
Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

Tinggalkan Komentar