Diantara dawuh Mbah Moen yang viral pasca wafatnya beliau adalah; “Kowe mandek ngrokok luwih apik timbang shalat sunah nanging isih ngrokok-an” (kamu berhenti merokok itu lebih baik daripada shalat sunah tapi masih suka merokok).
Nasehat yang pendek namun sarat makna. Ada ajaran tentang fiqih prioritas. Ada ajaran tentang fiqih muwazanat. Dan ada ajaran tentang fiqih ahkam itu sendiri.
Ada wali murid mengeluh dan merasa keberatan dengan SPP anaknya yang menempuh pendidikan di sekolah swasta Islam. Setelah ia selesai berkeluh kesah, saya bertanya; “Memang berapa SPP nya?” Ia menjawab: “500 ribu dengan makan siang dan snacknya”.
Lalu saya tanya lagi: Bapak merokok?”. Dia bilang; “iya, saya perokok aktif”. Saya tanya terus: “Tiap hari?” Dia jawab: “Iya, kadang satu bungkus, kadang sebungkus setengah”. Saya kejar terus: “Berapa rupiah per bungkusnya?” Dia bilang; “25 ribu”
Lihatlah, sikap sebagian kita; tidak merasa berat untuk membeli rokok tidak kurang dari 750 ribu tiap bulan tetapi merasa berat dengan SPP anaknya yang 500 ribu. Padahal pendidikan anak adalah investasi dunia akhirat, sedangkan rokok sama sekali tak bermanfaat.
Inilah kompas prioritas yang hilang dari kajian-kajian keislaman kita sehingga umat tak memiliki panduan dalam mengelola hartanya.
Jika ini ditarik dalam skala yang lebih besar, kita bisa ambil sebagai contoh; ada presiden yang lebih memilih meninjau pembangunan Rel kereta di bandara Soeta daripada menemui massa 411 dan para ulama yang datang dari berbagai penjuru daerah di depan istana (https://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2016/11/06/104461/mui-sayangkan-jokowi-tak-temui-ulama-di-aksi-damai-411.html)
Contoh yang lain; presiden negri tailan lebih memilih mengundang penjual tabung gas daripada keluarga korban tewas demo pilpres atau keluarga kpps yang meninggal dunia (https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190507084423-32-392531/total-554-orang-kpps-panwas-dan-polisi-tewas-di-pemilu-2019)
Lain lagi cerita presiden Hongkong, ia lebih sibuk mau memindahkan ibukota daripada mencari solusi utang negara yang mencapai 4000T lebih (https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20181017135004-532-339196/empat-tahun-jokowi-total-utang-pemerintah-tembus-rp4416-t) atau ancaman defisit BPJS yang sudah di depan mata (https://m.detik.com/health/berita-detikhealth/d-4626642/bpjs-kesehatan-sebut-kemungkinan-defisit-rp-28-triliun-hingga-akhir-2019)
Ini sekedar contoh betapa naasnya manusia-manusia yang kehilangan kompas prioritas. Ia bisa membahayakan diri sendiri atau keluarga bahkan sebuah negara jika ia seorang penguasa.
Suhari Abu Fatih
Pelayan Ma’had Al Fatih

