HAMBA ALLAH
Pada setiap desah ada ibadah. Niati persembahan segenap bakti kepada Allah. Istiqamah. Teruslah bergerak teruslah melangkah! Teguh menengadah meminta cinta Allah dan mahabbah lillah. Karena Allah adalah pemilik rahmah. Kasih sayang tanpa batas tanpa punah.
Manusia lemah jangan resah! Manusia tempat khilaf tempat salah. Jangan gelisah! Allah wujud memberi maghfirah. Jangan memohon hidup yang tanpa salah. Agar tidak menyelisihi Allah sebagai Dzat yang menebar maghfirah. Selalu ada jalan menuju jannah. Tempat terindah menikmati bahagia bertambah-tambah.
Indah bersama Islam yang kaffah. Meniti kesempurnaan tak berarti menanggalkan fitrah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٢٠٨) فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٢٠٩)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kalian turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian. Tetapi jika kalian tergelincir (dari jalan Allah) sesudah datang kepada kalian bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 208-209)
Allah Maha Perkasa Allah Maha Bijaksana. Tidak dalam rangkaian kita berternak dosa. Namun tak dipungkiri bahwa lupa dan khilaf adakala mengakrabi manusia. Maka bukan menyengaja syahwat berselancar di lautan dosa hingga mabuk terpedaya. Berlayarlah di atas bahtera menjadi nahkoda menepis ombak yang menerjang menggoda! Sungguh Allah Maha Bijaksana terhadap usaha juang kita.
Ketundukan mengabdi dalam segala aktifitas tertuju untuk Allah semata, menjadi kebahagiaan tak terkira bersama di jalan-Nya. Kemuliaan tanpa ada bandingannya. Tidak kepada berhala tidak juga kepada dunia. Damai menghamba kepada Yang Maha Sempurna.
Tangis ketakberdayaan di hadapan-Nya adalah bahagia, tersambut dalam dekapan kasih sayang-Nya leburkan dosa-dosa. Senyum dan tawa adalah bahagia kala panen karunia tak terhingga, berbagi selanjutnya menabur kebahagiaan untuk alam semesta -rahmatan lil’aalamiina.
Khilaf perjuangan boleh jadi meluas samudra, tetapi ampunan di sisi-Nya meliputi semesta. Dosa menggunung setinggi-tingginya. Tiada menyekutukan-Nya dalam penghambaan maka gunungan dosa ‘kan berguguran dalam titah kemaafan-Nya. Bahagia menghamba Allah Ta’ala.
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
Berlapang menyambut setiap usaha meraih takdir baiknya. Dari lembah mana pun terbuka peluang hidayah-Nya. Umar bin Khoththob justru di puncak amarah menemukan hidayah-Nya. Tekad bulat membunuh baginda Nabi luluh oleh ayat-ayat cinta. Thahaa. Maa anzalnaa ‘alaika l-quraana litasyqaa. Illa tadzkiratan liman yakhsyaa..
Abu Sufyan bin Harb pemimpin kuffar dari satu peristiwa ke lain peristiwa, dari satu perang ke berbagai perang berikutnya. Permusuhannya terhadap Islam sedemikian sengitnya. Hingga terjadilah Fathu Makkah yang melegenda, tanpa ada tetesan darah Abu Sufyan memimpin kaumnya menjemput hidayah dengan penuh cinta. Ditebusnya masa lalu yang gelap gulita dengan pancaran amal juang bercahaya, hingga tak peduli ia kehilangan kedua matanya dalam dua peristiwa berbeda. Kelak sejarah pun mencatat dari sulbi Abu Sufyan lahirlah dinasti Umayyah yang berjaya satu abad lamanya.
Menjadi hamba bagaimana bahagia? Menjadi kawula kenapa mulia? Menjadi hamba Allah berbeda dengan penghamba berhala. Berbeda dari pengagum yang fana yang terjebak suramnya logika. Hamba Allah bermakna menghamba kepada pemilik segala. Bahagia ada. Mulia ia. Damai hingga surga. Diri tak sempurna tapi meniti jalan kesempurnaan berhamba.
Surga adalah kampung halaman kita. Dari sana bermula dan ke sana ayunan langkah kita menuju bahagia selamanya.
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal sholih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah: 25)
Para pengabdi di jalan Allah telah menggenggam kunci jannah. ‘Ibadurrahman senantiasa bergerak dengan perisai لا اله إلا الله
Anshor Hasan

