DI ZAMAN FITNAH

Di zaman fitnah ini, ilmu hanya berhenti di rongga kepala, tidak sampai ke dasar hati. Pintar tapi sangar. Cerdas tapi keras. Bergelar sarjana tapi durjana. Doktor tapi perilakunya kotor.

Di zaman fitnah ini, mengungkapkan kebenaran dianggap menebar kebencian. Penguasa justru dibela, sedangkan rakyat jelata dibiarkan menderita. Yang kuat terus dijilat. Sedangkan yang lemah, makin dibenamkan ke dalam tanah.

Di zaman fitnah ini, yang tegak dengan ajaran agama dihina-hina. Sedangkan mereka yang tak menghargai agama, justru dipuja-puja. Yang istiqomah, dianggap payah. Sedangkan kaum zindiq disebut kaum terdidik.

Di zaman fitnah ini, hal-hal yang sederhana dibuat rumit. Perkara yang mudah dipersulit. Yang jelas, dibuat bias. Dan hal-hal yang baku dibikin rancu.

Di zaman fitnah ini, gereja-gereja diamankan sedangkan pengajian dipersekusi dan tak diijinkan. Perasaan orang-orang kafir wajib dijaga, sedangkan perasaan saudara seiman dilukai dengan semena-mena.

Di zaman fitnah ini, banyak ulama mendatangi istana bukan untuk menasehati penguasa namun meminta remah-remah dunia. Bukan mengingatkannya agar bertakwa, namun untuk mencarikan dalil pembenaran atas sikap dan kebijakannya. Hingga yang suka dusta dipuja sedemikian rupa. Sedangkan yang berlaku jujur dibiarkan hancur.

Di zaman fitnah ini, mestinya negara berupaya mensejahterakan rakyatnya, tapi justru sebaliknya; menarik upeti dan pajak untuk menggaji para pegawai, menteri dan presidennya. Lalu sebagian membayar atas dasar kepatuhan dan sebagian yang lain atas dasar keterpaksaan sambil bertanya: “dimanakan kekayaan alam kita, kenapa mereka masih saja memeras kita”? Namun pertanyaan itu menabrak ruang hampa.

Di zaman fitnah ini, pemimpin dipilih bukan karena kecakapan dan kemampuannya namun karena besutan media. Pemimpin ditentukan bukan oleh kapasitas, namun oleh isi tas. Maka ruwaibidhoh tampil memegang urusan umat. Kaum santri dan kiyai dikendalikan para penjahat. Namun mereka tak menyadarinya karena kabut fitnah ini makin pekat. Dan kiamat sudah dekat.

Semoga kita termasuk yang selamat, dunia dan akhirat.

Suhari Abu Fatih
Pelayan Mahad Alfatih

Tinggalkan Komentar